<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Anggoro's Think and Learn</title>
	<atom:link href="http://andit2anggi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://andit2anggi.wordpress.com</link>
	<description>"Thus today we are fighting, not only for our own existence, but also to liberate the world from a conspiracy which, without scruples, put the happiness of nations and people second to the basest egoism"</description>
	<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 04:00:23 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kehadiran Nazi di Indonesia yang Terlupakan</title>
		<link>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/08/20/kehadiran-nazi-di-indonesia-yang-terlupakan/</link>
		<comments>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/08/20/kehadiran-nazi-di-indonesia-yang-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 04:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andit2anggi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andit2anggi.wordpress.com/2008/08/20/kehadiran-nazi-di-indonesia-yang-terlupakan/</guid>
		<description><![CDATA[Kehadiran Nazi di Indonesia yang Terlupakan 
BERKECAMUKNYA Perang Dunia II Teater Asia-Pasifik, yang terjadi di Indonesia, diwarnai kehadiran pasukan Nazi Jerman. Aksi mereka dilakukan usai menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, 8 Maret tahun 1942, atau 64 tahun silam. Namun, kehadiran Nazi Jerman ke Indonesia seakan terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Kehadiran pasukan Nazi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Kehadiran Nazi di Indonesia yang Terlupakan </strong></p>
<p>BERKECAMUKNYA Perang Dunia II Teater Asia-Pasifik, yang terjadi di Indonesia, diwarnai kehadiran pasukan Nazi Jerman. Aksi mereka dilakukan usai menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, 8 Maret tahun 1942, atau 64 tahun silam. Namun, kehadiran Nazi Jerman ke Indonesia seakan terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.</p>
<p>Kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia, secara umum melalui aksi sejumlah kapal selam (u-boat/u-boote) di Samudra Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka, pada kurun waktu tahun 1943-1945. Sebanyak 23 u-boat mondar-mandir di perairan Indonesia, Malaysia, dan Australia, dengan pangkalan bersama Jepang, di Jakarta, Sabang, dan Penang, yang diberangkatkan dari daerah pendudukan di Brest dan Bordeaux (Prancis) Januari-Juni 1943.</p>
<p>Beroperasinya sejumlah u-boat di kawasan Timur Jauh, merupakan perintah Fuehrer Adolf Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz. Tujuannya, membuka blokade lawan, juga membawa mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan ”kawan sejawatnya”, Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia. Sepulangnya dari sana, berbagai kapal selam itu bertugas mengawal kapal yang membawa ”oleh-oleh” dari Indonesia dan Malaysia, hasil perkebunan berupa karet alam, kina, serat-seratan, dll., untuk keperluan industri perang Jerman di Eropa.</p>
<p>Pada awalnya, kapal selam Jerman yang ditugaskan ke Samudra Hindia dengan tujuan awal ke Penang berjumlah 15 buah, terdiri U-177, U-196, U-198, U-852, U-859, U-860, U-861, U-863, dan U-871 (semuanya dari Type IXD2), U-510, U-537, U-843 (Type IXC), U-1059 dan U-1062 (Type VIIF). Jumlahnya kemudian bertambah dengan kehadiran U-862 (Type IXD2), yang pindah pangkalan ke Jakarta.</p>
<p>Ini disusul U-195 (Type IXD1) dan U-219 (Type XB), yang mulai menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945. Sejak itu, berduyun-duyun kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya.</p>
<p>Adalah U-862 yang dikomandani Heinrich Timm, yang tercatat paling sukses beraksi di wilayah Indonesia. Berangkat dari Jakarta dan kemudian selamat pulang ke tempat asal, untuk menenggelamkan kapal Sekutu di Samudra Hindia, Laut Jawa, sampai Pantai Australia.</p>
<p>Nasib sial nyaris dialami U-862 saat bertugas di permukaan wilayah Samudra Hindia. Gara-gara melakukan manuver yang salah, kapal selam itu nyaris mengalami ”senjata makan tuan”, dari sebuah torpedo jenis homming akustik T5/G7 Zaunkving yang diluncurkannya. Untungnya, U-862 buru-buru menyelam secara darurat, sehingga torpedo itu kemudian meleset.</p>
<p>Usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, U-862 pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura. Pada Juli 1945, U-862 dihibahkan kepada AL Jepang, dan berganti kode menjadi I-502. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu, Agustus tahun yang sama. Riwayat U-862 berakhir 13 Februari 1946 karena dihancurkan pasukan Sekutu di Singapura. Para awak U-862 sendiri semuanya selamat dan kembali ke tanah air mereka beberapa tahun usai perang.</p>
<p>Dilindungi pribumi</p>
<p>Usai Jerman menyerah kepada Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kemudian dihibahkan kepada AL Jepang untuk kemudian dipergunakan lagi, sampai akhirnya Jepang takluk pada 15 Agustus 1945 usai dibom nuklir oleh Amerika.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia menjadi luntang-lantung tidak punya kerjaan. Orang-orang Jerman mengambil inisiatif agar dapat dikenali pejuang Indonesia dan tidak keliru disangka orang Belanda. Caranya, mereka membuat tanda atribut yang diambil dari seragamnya dengan menggunakan lambang Elang Negara Jerman pada bagian lengan baju mereka.</p>
<p>Para tentara Jerman yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai ”warga sipil” di sana.</p>
<p>Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka, mengisahkan, pada awal September 1945 sebuah Resimen Ghurka-Inggris di bawah komandan perwira asal Skotlandia datang ke Pulau Jawa. Mereka kaget menemukan tentara Jerman di Perkebunan Cikopo.</p>
<p>Sang komandan bertanya kepada Mayor Angkatan Laut Jerman, Burghagen yang menjadi kokolot di sana, untuk mencari tempat penampungan di Bogor.</p>
<p>Menggunakan 50 truk eks pasukan Jepang, orang-orang Jerman di Perkebunan Cikopo itu dipindahkan ke tempat penampungan di Bogor. Namun mereka harus kembali mengenakan seragam mereka, memegang senjata yang disediakan pasukan Inggris, untuk melindungi tempat penampungan yang semula ditempati orang-orang Belanda.</p>
<p>Saat itu, menurut dia, di tempat penampungan banyak orang Belanda yang mengeluh, karena mereka ”dijaga” oleh orang Jerman. ”Pada malam hari pertama menginap, langsung terjadi saling tembak namun tak ada korban. Ternyata, orang-orang Indonesia menyangka orang Jerman telah tertangkap oleh pasukan Sekutu, dan mereka berusaha membebaskan orang-orang Jerman itu,” kata Zahorka.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, Inggris menyerahkan sekira 260 tentara Jerman kepada Belanda yang kemudian ditawan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.</p>
<p>Tercatat pula, beberapa tentara Jerman melarikan diri dari Pulau Onrust, dengan berenang menyeberang ke pulau lain. Di antaranya, pilot pesawat angkatan laut bernama Werner dan sahabatnya Lvsche dari U-219.</p>
<p>Selama pelarian, mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Pulau Jawa, bekerja sama melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Lvsche kemudian meninggal, konon akibat kecelakaan saat merakit pelontar api.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/andit2anggi.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/andit2anggi.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andit2anggi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andit2anggi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andit2anggi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andit2anggi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andit2anggi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andit2anggi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andit2anggi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andit2anggi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andit2anggi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andit2anggi.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andit2anggi.wordpress.com&blog=2733515&post=67&subd=andit2anggi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/08/20/kehadiran-nazi-di-indonesia-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/andit2anggi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggoro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mas Andit</title>
		<link>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/07/12/mas-andit/</link>
		<comments>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/07/12/mas-andit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 07:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andit2anggi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andit2anggi.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[
       ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/07/1_790693013l.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-60" src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/07/1_790693013l.jpg?w=225&h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>

<a href='http://andit2anggi.wordpress.com/2008/07/12/mas-andit/1_790693013l/' title='1_790693013l'><img src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/07/1_790693013l.jpg?w=72&h=96" width="72" height="96" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://andit2anggi.wordpress.com/2008/07/12/mas-andit/1_73331116/' title='1_73331116'><img src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/07/1_73331116.jpg?w=128&h=96" width="128" height="96" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://andit2anggi.wordpress.com/2008/07/12/mas-andit/1_/' title='1_'><img src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/07/1_.jpg?w=127&h=96" width="127" height="96" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://andit2anggi.wordpress.com/2008/07/12/mas-andit/1_55/' title='1_55'><img src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/07/1_55.jpg?w=128&h=96" width="128" height="96" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://andit2anggi.wordpress.com/2008/07/12/mas-andit/1_79069/' title='1_79069'><img src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/07/1_79069.jpg?w=128&h=96" width="128" height="96" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>

<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/andit2anggi.wordpress.com/61/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/andit2anggi.wordpress.com/61/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andit2anggi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andit2anggi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andit2anggi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andit2anggi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andit2anggi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andit2anggi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andit2anggi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andit2anggi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andit2anggi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andit2anggi.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andit2anggi.wordpress.com&blog=2733515&post=61&subd=andit2anggi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/07/12/mas-andit/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/andit2anggi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggoro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/07/1_790693013l.jpg?w=225" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Dijual</title>
		<link>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/05/19/rumah-dijual/</link>
		<comments>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/05/19/rumah-dijual/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 02:47:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andit2anggi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andit2anggi.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[House For Sale
Address : Jl. Pisok XXII EB 24 No. 3 Bintaro Sec. 5 Tangerang (nice view, near playground park)
Dimension : LT 96m2/LB 64m2
Details : 2 bedrooms, 2 bathrooms, service area, 1&#215;1.5 fishpond backyard
Negotiable price : IDR 450,000,000
Interested ? call 08159644744 email to anggi.z.wisaksono@gmail.com

       ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;">House For Sale</p>
<p style="text-align:left;">Address : Jl. Pisok XXII EB 24 No. 3 Bintaro Sec. 5 Tangerang (nice view, near playground park)</p>
<p style="text-align:left;">Dimension : LT 96m2/LB 64m2</p>
<p style="text-align:left;">Details : 2 bedrooms, 2 bathrooms, service area, 1&#215;1.5 fishpond backyard</p>
<p style="text-align:left;">Negotiable price : IDR 450,000,000</p>
<p style="text-align:left;">Interested ? call 08159644744 email to anggi.z.wisaksono@gmail.com</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/05/pisok-xxii1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-58" src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/05/pisok-xxii1.jpg?w=300&h=180" alt="" width="300" height="180" /></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/andit2anggi.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/andit2anggi.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andit2anggi.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andit2anggi.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andit2anggi.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andit2anggi.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andit2anggi.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andit2anggi.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andit2anggi.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andit2anggi.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andit2anggi.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andit2anggi.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andit2anggi.wordpress.com&blog=2733515&post=56&subd=andit2anggi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/05/19/rumah-dijual/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/andit2anggi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggoro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/05/pisok-xxii1.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tottenham Hotspur Indonesia</title>
		<link>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/05/12/tottenham-hotspur-indonesia/</link>
		<comments>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/05/12/tottenham-hotspur-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 14:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andit2anggi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andit2anggi.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[IndoSpurs, close season 2007/2008&#8230;&#8230;

       ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>IndoSpurs, close season 2007/2008&#8230;&#8230;</p>
<p><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/05/mclub1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-54" src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/05/mclub1.jpg?w=510&h=448" alt="" width="510" height="448" /></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/andit2anggi.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/andit2anggi.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andit2anggi.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andit2anggi.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andit2anggi.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andit2anggi.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andit2anggi.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andit2anggi.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andit2anggi.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andit2anggi.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andit2anggi.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andit2anggi.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andit2anggi.wordpress.com&blog=2733515&post=55&subd=andit2anggi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/05/12/tottenham-hotspur-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/andit2anggi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggoro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/05/mclub1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Morotai Airbase 1944 (Maluku Islands)</title>
		<link>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/17/morotai-airbase-1944-maluku-islands/</link>
		<comments>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/17/morotai-airbase-1944-maluku-islands/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 03:52:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andit2anggi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andit2anggi.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[                      General MacArthur Base 
Location
Morotai.
Construction
Single airstrip built by Americans on the coastline. It was the first airfield built on the island, construction began in mid September 1944. Also, Australians from NO. 14 Airfield Construction Squadron arrived September 18, 1944. 
American Usage
Pilots remembered the base for its strong winds, which took their toll of aircraft that approached [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div><strong><em><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/zero1.jpg" title="zero1.jpg"><img src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/zero1.thumbnail.jpg" alt="zero1.jpg" /></a><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/survey-crew-and-bulldozers-during-construction-of-pitu-airfield.jpg" title="survey-crew-and-bulldozers-during-construction-of-pitu-airfield.jpg"><img src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/survey-crew-and-bulldozers-during-construction-of-pitu-airfield.thumbnail.jpg" alt="survey-crew-and-bulldozers-during-construction-of-pitu-airfield.jpg" /></a><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/pitu-airstrip-runway-under-constructed-credit-by-us-army-signal-corps-date-circa-september-1944.jpg" title="pitu-airstrip-runway-under-constructed-credit-by-us-army-signal-corps-date-circa-september-1944.jpg"><img src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/pitu-airstrip-runway-under-constructed-credit-by-us-army-signal-corps-date-circa-september-1944.thumbnail.jpg" alt="pitu-airstrip-runway-under-constructed-credit-by-us-army-signal-corps-date-circa-september-1944.jpg" /></a><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/morotai-airfield-left-is-wama-airstrip-used-by-bombers-and-right-pitu-airstrip-for-fighters.jpg" title="morotai-airfield-left-is-wama-airstrip-used-by-bombers-and-right-pitu-airstrip-for-fighters.jpg"><img src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/morotai-airfield-left-is-wama-airstrip-used-by-bombers-and-right-pitu-airstrip-for-fighters.thumbnail.jpg" alt="morotai-airfield-left-is-wama-airstrip-used-by-bombers-and-right-pitu-airstrip-for-fighters.jpg" /></a><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/a6m5-zero-surrendered-at-morotai-01.jpg" title="a6m5-zero-surrendered-at-morotai-01.jpg"><img src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/a6m5-zero-surrendered-at-morotai-01.thumbnail.jpg" alt="a6m5-zero-surrendered-at-morotai-01.jpg" /></a>                      </em></strong><strong><em>General MacArthur Base</em> </strong></div>
<div><strong>Location</strong><br />
<a href="http://www.pacificwrecks.com/provinces/irian_moratai.html">Morotai</a>.</div>
<div><span class="body-text"><strong>Construction</strong><br />
Single airstrip built by Americans on the coastline. It was the first airfield built on the island, construction began in mid September 1944. Also, Australians from NO. 14 Airfield Construction Squadron arrived September 18, 1944. </span></div>
<div class="body-text"><strong>American Usage<br />
</strong>Pilots remembered the base for its strong winds, which took their toll of aircraft that approached too slowly. Quickly, it was crammed with both American 5th and 13th Air Force fighters and bombers, and RAAF aircraft as it became the most forward base in the area.  It became one of the largest (RAAF) spitfire fighter bases in the world. At the later stage of the war, the Allied had more planes than they ! needed, so damaged ones were abandoned due to lack of repair facilities or motivation to repair them were abandoned at Morotai.</div>
<div class="body-text"><strong>Japanese Air Raids Against Moratai<br />
</strong>The Japanese made a total of 82 air raids against the strips at Moratai, from September 15, 1944 to February 1, 1945. reaching a peak in November 1944 with a raid every day. Tokyo radio dubbed Morotai &#8220;graveyard of the 13th Air Force&#8221;. In reality, most were nuance raids, but some had disastrous effects. November 22/23, 1944<strong> - </strong>9 Japanese planes destroyed 15 parked planes and damage 8.</div>
<div class="body-text"><strong>Units Based at Wama</strong><br />
35th FG HQ (September 27, 1944 - ?<br />
35th FG, <a href="http://www.pacificghosts.com/video/41st/index.html">41st FS</a> (P-47) from <a href="http://www.pacifi!%20cwrecks.com/provinces/irian_owi.html">Owi</a> Oct 17, 1944 - Jan 21, 45 to <a href="http://www.pacificwrecks.com/airfields/philippines/mangaldan/index.html">Mangaldan</a></div>
<div class="body-text">Dena &#8220;Thumper&#8221; Huitt, <a href="http://www.pacificghosts.com/video/41st/index.html">41st FS</a> adds:<br />
&#8220;We lost several planes by Japanese bombing raids at Morotai. There were only about two nights during November that we didn&#8217;t have a red alert. Lots of foxhole time! One night a bomb landed in a foxhole in the enlisted men&#8217;s are and killed four of our men.&#8221;</div>
<div class="body-text">Richard Debaugh, <a href="http://www.pacificghosts.com/video/41st/index.html">41st FS</a> adds:<br />
&#8220;We took off many times configured with three external fuel tanks, a 150 gallon tank under each  wing and a belly tank of 100 gallons.&#8221;</div>
<div class="body-text">Robert Brewer, <a href="http://www.pacificghosts.com/video/41!%20st/index.html">41st FS</a> adds:<br />
&#8220;There were! times w hen we had 3 external tanks for a long mission when we used the bomber strip and used water injection to get airborne.&#8221;</div>
<div class="body-text"><a href="http://www.pacificwrecks.com/people/visitors/flahavin/index.html">Peter Flahavin</a> adds:<br />
&#8220;My Dad was stationed there in Aust Army signals from March to September 1945 and vividly remembers all the air activity. To amuse themselves they used to cut up fighter belly tanks and turn them into fishing boats or yachts of the Morotai Yacht club. The Japanese were 25 miles away on <a href="http://www.pacificwrecks.com/provinces/irian_halmahera.html">Halmahera</a> so you had to watch the currents.&#8221;</div>
<table border="0" align="center" width="100%" cellPadding="0" cellSpacing="0">
<tr bgColor="#999999">
<td>
<table border="0" width="100%" cellPadding="0" cellSpacing="0">
<tr bgColor="#999999">
<td bgColor="#999999" width="61%" class="heading-title"><b> <a href="http://www.pacificwrecks.com/aircraft/a6m5/5622.html">Mitsubishi A6M5 <i>Zero</i></a></b></td>
</tr>
<tr bgColor="#999999">
<td bgColor="#ccccff" class="body-text">  Surrendered at the end of the war.</td>
</tr>
</table>
</td>
</tr>
</table>
<div class="body-text"><strong>Today</strong><br />
<span style="font-weight:bold;color:#ff0000;">The only aircraft now at Morotai is a wrecked Harvard at the airport (which is off limits to tourists).</span></div>
<div class="body-text">Robert Dunn visited in 1997:<br />
&#8220;I visited Moratai: Wama Strip and <a href="http://www.pacificwrecks.com/airfields/indonesia/pitu/index.html">Pitue Strip</a>. The locals showed us around we found a pile of Australian broken beer bottles next to Wama . The hot mix is still ok on Pitue.&#8221;</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/andit2anggi.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/andit2anggi.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andit2anggi.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andit2anggi.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andit2anggi.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andit2anggi.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andit2anggi.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andit2anggi.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andit2anggi.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andit2anggi.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andit2anggi.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andit2anggi.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andit2anggi.wordpress.com&blog=2733515&post=47&subd=andit2anggi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/17/morotai-airbase-1944-maluku-islands/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/andit2anggi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggoro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/zero1.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">zero1.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/survey-crew-and-bulldozers-during-construction-of-pitu-airfield.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">survey-crew-and-bulldozers-during-construction-of-pitu-airfield.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/pitu-airstrip-runway-under-constructed-credit-by-us-army-signal-corps-date-circa-september-1944.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pitu-airstrip-runway-under-constructed-credit-by-us-army-signal-corps-date-circa-september-1944.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/morotai-airfield-left-is-wama-airstrip-used-by-bombers-and-right-pitu-airstrip-for-fighters.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">morotai-airfield-left-is-wama-airstrip-used-by-bombers-and-right-pitu-airstrip-for-fighters.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/a6m5-zero-surrendered-at-morotai-01.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">a6m5-zero-surrendered-at-morotai-01.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1965&#8230;&#8230;.</title>
		<link>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/11/1965/</link>
		<comments>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/11/1965/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 06:14:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andit2anggi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/11/1965/</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;&#8230;in four months,
five times as many
people died in
Indonesia as in
Vietnam in
twelve years.&#8221;
&#8211; Bertrand Russell, 1966
The following article appeared in the Spartanburg, South Carolina Herald-Journal on May 19, 1990, then in the San Francisco Examiner on May 20, 1990, the Washington Post on May 21, 1990, and the Boston Globe on May 23, 1990. The version [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img align="left" width="350" src="http://www.namebase.org/gifs/indones.gif" height="355" /></p>
<h1>&#8220;&#8230;in four months,<br />
five times as many<br />
people died in<br />
Indonesia as in<br />
Vietnam in<br />
twelve years.&#8221;</h1>
<p><b>&#8211; Bertrand Russell, 1966</b></p>
<p>The following article appeared in the Spartanburg, South Carolina <i>Herald-Journal</i> on May 19, 1990, then in the <i>San Francisco Examiner</i> on May 20, 1990, the <i>Washington Post</i> on May 21, 1990, and the <i>Boston Globe</i> on May 23, 1990. The version below is from the <i>Examiner</i>.</p>
<h2>Ex-agents say CIA compiled death lists for Indonesians</h2>
<h3>After 25 years, Americans speak of their<br />
role in exterminating Communist Party</h3>
<p><b>by Kathy Kadane, States News Service, 1990</b><br />
WASHINGTON &#8212; The U.S. government played a significant role in one of the worst massacres of the century by supplying the names of thousands of Communist Party leaders to the Indonesian army, which hunted down the leftists and killed them, former U.S. diplomats say.For the first time, U.S. officials acknowledge that in 1965 they systematically compiled comprehensive lists of Communist operatives, from top echelons down to village cadres. As many as 5,000 names were furnished to the Indonesian army, and the Americans later checked off the names of those who had been killed or captured, according to the U.S. officials.</p>
<p>The killings were part of a massive bloodletting that took an estimated 250,000 lives.</p>
<p>The purge of the Partai Komunis Indonesia (PKI) was part of a U.S. drive to ensure that Communists did not come to power in the largest country in Southeast Asia, where the United States was already fighting an undeclared war in Vietnam. Indonesia is the fifth most-populous country in the world.</p>
<p>Silent for a quarter-century, former senior U.S. diplomats and CIA officers described in lengthy interviews how they aided Indonesian President Suharto, then army leader, in his attack on the PKI.</p>
<p>&#8220;It really was a big help to the army,&#8221; said Robert J. Martens, a former member of the U.S. Embassy&#8217;s political section who is now a consultant to the State Department. &#8220;They probably killed a lot of people, and I probably have a lot of blood on my hands, but that&#8217;s not all bad. There&#8217;s a time when you have to strike hard at a decisive moment.&#8221;</p>
<p>White House and State Department spokesmen declined comment on the disclosures.</p>
<p>Although former deputy CIA station chief Joseph Lazarsky and former diplomat Edward Masters, who was Martens&#8217; boss, said CIA agents contributed in drawing up the death lists, CIA spokesman Mark Mansfield said, &#8220;There is no substance to the allegation that the CIA was involved in the preparation and/or distribution of a list that was used to track down and kill PKI members. It is simply not true.&#8221;</p>
<p>Indonesian Embassy spokesman Makarim Wibisono said he had no personal knowledge of events described by former U.S. officials. &#8220;In terms of fighting the Communists, as far as I&#8217;m concerned, the Indonesian people fought by themselves to eradicate the Communists,&#8221; he said.</p>
<p>Martens, an experienced analyst of communist affairs, headed an embassy group of State Department and CIA officers that spent two years compiling the lists. He later delivered them to an army intermediary.</p>
<p>People named on the lists were captured in overwhelming numbers, Martens said, adding, &#8220;It&#8217;s a big part of the reason the PKI has never come back.&#8221;</p>
<p>The PKI was the third-largest Communist Party in the world, with an estimated 3 million members. Through affiliated organizations such as labor and youth groups it claimed the loyalties of another 17 million.</p>
<p>In 1966 the Washington Post published an estimate that 500,000 were killed in the purge and the brief civil war it triggered. In a 1968 report, the CIA estimated there had been 250,000 deaths, and called the carnage &#8220;one of the worst mass murders of the 20th century.&#8221;</p>
<h3>U.S. Embassy approval</h3>
<p>Approval for the release of the names came from the top U.S. Embassy officials, including former Ambassador Marshall Green, deputy chief of mission Jack Lydman and political section chief Edward Masters, the three acknowledged in interviews.Declassified embassy cables and State Department reports from early October 1965, before the names were turned over, show that U.S. officials knew Suharto had begun roundups of PKI cadres, and that the embassy had unconfirmed reports that firing squads were being formed to kill PKI prisoners.</p>
<p>Former CIA Director William Colby, in an interview, compared the embassy&#8217;s campaign to identify the PKI leadership to the CIA&#8217;s Phoenix Program in Vietnam. In 1965, Colby was the director of the CIA&#8217;s Far East division and was responsible for directing U.S. covert strategy in Asia.</p>
<p>&#8220;That&#8217;s what I set up in the Phoenix Program in Vietnam &#8212; that I&#8217;ve been kicked around for a lot,&#8221; he said. &#8220;That&#8217;s exactly what it was. It was an attempt to identify the structure&#8221; of the Communist Party.</p>
<p>Phoenix was a joint U.S.-South Vietnamese program set up by the CIA in December 1967 that aimed at neutralizing members of the National Liberation Front, the Vietcong political cadres. It was widely criticized for alleged human rights abuses.</p>
<h3>&#8220;You shoot them&#8221;</h3>
<p>&#8220;The idea of identifying the local apparatus was designed to &#8212; well, you go out and get them to surrender, or you capture or you shoot them,&#8221; Colby said of the Phoenix Program. &#8220;I mean, it was a war, and they were fighting. So it was really aimed at providing intelligence for operations rather than a big picture of the thing.&#8221;In 1962, when he took over as chief of the CIA&#8217;s Far East division, Colby said he discovered the United States did not have comprehensive lists of PKI activists. Not having the lists &#8220;could have been criticized as a gap in the intelligence system,&#8221; he said, adding they were useful for &#8220;operation planning&#8221; and provided a picture of how the party was organized. Without such lists, he said, &#8220;you&#8217;re fighting blind.&#8221;</p>
<p>Asked if the CIA had been responsible for sending Martens, a foreign service officer, to Jakarta in 1963 to compile the lists, Colby said, &#8220;Maybe, I don&#8217;t know. Maybe we did it. I&#8217;ve forgotten.&#8221;</p>
<p>The lists were a detailed who&#8217;s-who of the leadership of the party of 3 million members, Martens said. They included names of provincial, city and other local PKI committee members, and leaders of the &#8220;mass organizations,&#8221; such as the PKI national labor federation, women&#8217;s and youth groups.</p>
<h3>Better information</h3>
<p>&#8220;I know we had a lot more information&#8221; about the PKI &#8220;than the Indonesians themselves,&#8221; Green said. Martens &#8220;told me on a number of occasions that &#8230; the government did not have very good information on the Communist setup, and he gave me the impression that this information was superior to anything they had.&#8221;Masters, the embassy&#8217;s political section chief, said he believed the army had lists of its own, but they were not as comprehensive as the American lists. He said he could not remember whether the decision to release the names had been cleared with Washington.</p>
<p>The lists were turned over piecemeal, Martens said, beginning at the top of the communist organization. Martens supplied thousands of names to an Indonesian emissary over a number of months, he said. The emissary was an aide to Adam Malik, an Indonesian minister who was an ally of Suharto in the attack on the Communists.</p>
<p>Interviewed in Jakarta, the aide, Tirta Kentjana (&#8221;Kim&#8221;) Adhyatman, confirmed he had met with Martens and received lists of thousands of names, which he in turn gave to Malik. Malik passed them on to Suharto&#8217;s headquarters, he said.</p>
<h3>&#8220;Shooting list&#8221;</h3>
<p>Embassy officials carefully recorded the subsequent destruction of the PKI organization. Using Martens&#8217; lists as a guide, they checked off names of captured and assassinated PKI leaders, tracking the steady dismantling of the party apparatus, former U.S. officials said.Information about who had been captured and killed came from Suharto&#8217;s headquarters, according to Joseph Lazarsky, deputy CIA station chief in Jakarta in 1965. Suharto&#8217;s Jakarta headquarters was the central collection point for military reports from around the country detailing the capture and killing of PKI leaders, Lazarsky said.</p>
<p>&#8220;We were getting a good account in Jakarta of who was being picked up,&#8221; Lazarsky said. &#8220;The army had a &#8217;shooting list&#8217; of about 4,000 or 5,000 people.&#8221;</p>
<p>Detention centers were set up to hold those who were not killed immediately.</p>
<p>&#8220;They didn&#8217;t have enough goon squads to zap them all, and some individuals were valuable for interrogation,&#8221; Lazarsky said. &#8220;The infrastructure was zapped almost immediately. We knew what they were doing. We knew they would keep a few and save them for the kangaroo courts, but Suharto and his advisers said, if you keep them alive, you have to feed them.&#8221;</p>
<p>Masters, the chief of the political section, said, &#8220;We had these lists&#8221; constructed by Martens, &#8220;and we were using them to check off what was happening to the party, what the effect&#8221; of the killings &#8220;was on it.&#8221;</p>
<p>Lazarsky said the checkoff work was also carried out at the CIA&#8217;s intelligence directorate in Washington.</p>
<h3>Leadership destroyed</h3>
<p>By the end of January 1966, Lazarsky said, the checked-off names were so numerous the CIA analysts in Washington concluded the PKI leadership had been destroyed.&#8221;No one cared, as long as they were Communists, that they were being butchered,&#8221; said Howard Federspiel, who in 1965 was the Indonesia expert at the State Department&#8217;s Bureau of Intelligence and Research. &#8220;No one was getting very worked up about it.&#8221;</p>
<p>Asked about the checkoffs, Colby said, &#8220;We came to the conclusion that with the sort of Draconian way it was carried out, it really set them&#8221; &#8212; the communists &#8212; &#8220;back for years.&#8221;</p>
<p>Asked if he meant the checkoffs were proof that the PKI leadership had been caught or killed, he said, &#8220;Yeah, yeah, that&#8217;s right, &#8230; the leading elements, yeah.&#8221;</p>
<hr />
<h2>More from Kathy Kadane&#8230;</h2>
<p><b>A Letter to the Editor, <i>New York Review of Books</i>, April 10, 1997</b>To the Editors:</p>
<p>I very much admired Ms. Laber&#8217;s piece on Indonesian politics and the origins of the Soeharto regime. In connection with her assertion that little is known about a CIA (or US) role in the 1965 coup and the army massacre that followed, I would like to make your readers aware of a compelling body of evidence about this that is publicly available, but the public access to it is little known.</p>
<p>It consists of a series of on-the-record, taped interviews with the men who headed the US embassy in Jakarta or were at high levels in Washington agencies in 1965. I published a news story based on the interviews in <i>The Washington Post</i> (&#8221;U.S. Officials&#8217; Lists Aided Indonesian Bloodbath in &#8217;60s,&#8221; May 21, 1990), and have since transferred the tapes, my notes, and a small collection of documents, including a few declassified cables on which the story was based, to the National Security Archive in Washington, D.C. The Archive is a nongovernmental research institute and library, located at the George Washington University.</p>
<p>The former officials interviewed included Ambassador Marshall Green, Deputy Chief of Mission Jack Lydman, Political Counsellor (later Ambassador) Edward E. Masters, Robert Martens (an analyst of the Indonesian left working under Masters&#8217; supervision), and (then) director of the Central Intelligence Agency&#8217;s Far East division, William Colby.</p>
<p>The tapes, along with notes of conversations, show that the United States furnished critical intelligence &#8212; the names of thousands of leftist activists, both Communist and non-Communist &#8212; to the Indonesian Army that were then used in the bloody manhunt.</p>
<p>There were other details that illustrate the depth of US involvement and culpability in the killings which I learned from former top-level embassy officials, but have not previously published. For example, the US provided key logistical equipment, hastily shipped in at the last minute as Soeharto weighed the risky decision to attack. Jeeps were supplied by the Pentagon to speed troops over Indonesia&#8217;s notoriously bad roads, along with &#8220;dozens and dozens&#8221; of field radios that the Army lacked. As Ms. Laber noted, the US (namely, the Pentagon) also supplied &#8220;arms.&#8221; Cables show these were small arms, used for killing at close range.</p>
<p>The supply of radios is perhaps the most telling detail. They served not only as field communications but also became an element of a broad, US intelligence-gathering operation constructed as the manhunt went forward. According to a former embassy official, the Central Intelligence Agency hastily provided the radios &#8212; state-of-the-art Collins KWM-2s, high-frequency single-sideband transceivers, the highest-powered mobile unit available at that time to the civilian and commercial market. The radios, stored at Clark Field in the Philippines, were secretly flown by the US Air Force into Indonesia. They were then distributed directly to Soeharto&#8217;s headquarters &#8212; called by its acronym KOSTRAD &#8212; by Pentagon representatives. The radios plugged a major hole in Army communications: at that critical moment, there were no means for troops on Java and the out-islands to talk directly with Jakarta.</p>
<p>While the embassy told reporters the US had no information about the operation, the opposite was true. There were at least two direct sources of information. During the weeks in which the American lists were being turned over to the Army, embassy officials met secretly with men from Soeharto&#8217;s intelligence unit at regular intervals concerning who had been arrested or killed. In addition, the US more generally had information from its systematic monitoring of Army radios. According to a former US official, the US listened in to the broadcasts on the US-supplied radios for weeks as the manhunt went forward, overhearing, among other things, commands from Soeharto&#8217;s intelligence unit to kill particular persons at given locations.</p>
<p>The method by which the intercepts were accomplished was also described. The mobile radios transmitted to a large, portable antenna in front of KOSTRAD (also hastily supplied by the US &#8212; I was told it was flown in in a C-130 aircraft). The CIA made sure the frequencies the Army would use were known in advance to the National Security Agency. NSA intercepted the broadcasts at a site in Southeast Asia, where its analysts subsequently translated them. The intercepts were then sent on to Washington, where analysts merged them with reports from the embassy. The combined reporting, intercepts plus &#8220;human&#8221; intelligence, was the primary basis for Washington&#8217;s assessment of the effectiveness of the manhunt as it destroyed the organizations of the left, including, inter alia, the Indonesian Communist Party, the PKI.</p>
<p>A word about the relative importance of the American lists. It appears the CIA had some access prior to 1965 to intelligence files on the PKI housed at the G-2 section of the Indonesian Army, then headed by Major-General S. Parman. CIA officials had been dealing with Parman about intelligence concerning the PKI, among other matters, in the years prior to the coup, according to a former US official who was involved (Parman was killed in the coup). The former official, whose account was corroborated by others whom I interviewed, said that the Indonesian lists, or files, were considered inadequate by US analysts because they identified PKI officials at the &#8220;national&#8221; level, but failed to identify thousands who ran the party at the regional and municipal levels, or who were secret operatives, or had some other standing, such as financier.</p>
<p>When asked about the possible reason for this apparent inadequacy, former US Ambassador Marshall Green, in a December 1989 interview, characterized his understanding this way:</p>
<blockquote><p><font size="2">I know that we had a lot more information than the Indonesians themselves&#8230;. For one thing, it would have been rather dangerous [for the Indonesian military to construct such a list] because the Communist Party was so pervasive and [the intelligence gatherers] would be fingered&#8230;because of the people up the line [the higher-ups, some of whom sympathized with the PKI]. In the [Indonesian] Air Force, it would have been lethal to do that. And probably that would be true for the police, the Marines, the Navy &#8212; in the Army, it depended. My guess is that once this thing broke, the Army was desperate for information as to who was who [in the PKI]. </font></p></blockquote>
<p>By the end of January 1966, US intelligence assessments comparing the American lists with the reports of those arrested or killed showed the Army had destroyed the PKI. The general attitude was one of great relief: &#8220;Nobody cared&#8221; about the butchery and mass arrests because the victims were Communists, one Washington official told me.</p>
<p align="center">                    &#8212; Kathy Kadane</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/andit2anggi.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/andit2anggi.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andit2anggi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andit2anggi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andit2anggi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andit2anggi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andit2anggi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andit2anggi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andit2anggi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andit2anggi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andit2anggi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andit2anggi.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andit2anggi.wordpress.com&blog=2733515&post=45&subd=andit2anggi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/11/1965/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/andit2anggi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggoro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.namebase.org/gifs/indones.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>The Westerling Massacre (1947)</title>
		<link>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/06/the-westerling-massacre-1947/</link>
		<comments>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/06/the-westerling-massacre-1947/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 08:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andit2anggi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/06/the-westerling-massacre-1947/</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip dari wikipedia dan berbagai sumber : 
Sementara Perjanjian Linggarjati sedang berlangsung, di daerah-daerah di luar Jawa dan Sumatera, tetap terjadi perlawanan sengit dari rakyat setempat. Walaupun banyak pemimpin mereka ditangkap, dibuang dan bahkan dibunuh, perlawanan rakyat di Sulawesi Selatan tidak kunjung padam. Hampir setiap malam terjadi serangan dan penembakan terhadap pos-pos pertahanan tentara Belanda. Para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dikutip dari wikipedia dan berbagai sumber : </p>
<p>Sementara Perjanjian Linggarjati sedang berlangsung, di daerah-daerah di luar Jawa dan Sumatera, tetap terjadi perlawanan sengit dari rakyat setempat. Walaupun banyak pemimpin mereka ditangkap, dibuang dan bahkan dibunuh, perlawanan rakyat di Sulawesi Selatan tidak kunjung padam. Hampir setiap malam terjadi serangan dan penembakan terhadap pos-pos pertahanan tentara Belanda. Para pejabat Belanda sudah sangat kewalahan, karena tentara KNIL yang sejak bulan Juli menggantikan tentara Australia, tidak sanggup mengatasi gencarnya serangan-serangan pendukung Republik. Mereka menyampaikan kepada pimpinan militer Belanda di Jakarta, bahwa apabila perlawanan bersenjata pendukung Republik tidak dapat diatasi, mereka harus melepaskan Sulawesi Selatan.</p>
<p>Maka pada 9 November 1946, Letnan Jenderal Spoor dan Kepala Stafnya, Mayor Jenderal Buurman van Vreeden memanggil seluruh pimpinan pemerintahan Belanda di Sulawesi Selatan ke markas besar tentara di Batavia. Diputuskan untuk mengirim pasukan khusus dari DST pimpinan Westerling untuk menghancurkan kekuatan bersenjata Republik serta mematahkan semangat rakyat yang mendukung Republik Indonesia. Westerling diberi kekuasaan penuh untuk melaksanakan tugasnya dan mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu.</p>
<p>Pada 15 November 1946, Letnan I Vermeulen memimpin rombongan yang terdiri dari 20 orang pasukan dari Depot Pasukan Khusus (DST) menuju Makassar. Sebelumnya, NEFIS telah mendirikan markasnya di Makassar. Pasukan khusus tersebut diperbantukan ke garnisun pasukan KNIL yang telah terbentuk sejak Oktober 1945. Anggota DST segera memulai tugas intelnya untuk melacak keberadaan pimpinan perjuangan Republik serta para pendukung mereka.</p>
<p>Westerling sendiri baru tiba di Makassar pada 5 Desember 1946, memimpin 120 orang Pasukan Khusus dari DST. Dia mendirikan markasnya di desa Matoangin. Di sini dia menyusun strategi untuk Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan) dengan caranya sendiri, dan tidak berpegang pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger - VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), di mana telah ada ketentuan mengenai tugas intelijen serta perlakuan terhadap penduduk dan tahanan. Suatu buku pedoman resmi untuk Counter Insurgency.</p>
<p>[sunting] Operasi militer</p>
<p>[sunting] Tahap pertama<br />
Aksi pertama operasi Pasukan Khusus DST dimulai pada malam tanggal 11 menjelang 12 Desember. Sasarannya adalah desa Batua serta beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar dan Westerling sendiri yang memimpin operasi itu. Pasukan pertama berkekuatan 58 orang dipimpin oleh Sersan Mayor H. Dolkens menyerbu desa Borong dan pasukan kedua dipimpin oleh Sersan Mayor Instruktur J. Wolff beroperasi di desa Batua dan Patunorang. Westerling sendiri bersama Sersan Mayor Instruktur W. Uittenbogaard dibantu oleh dua ordonan, satu operator radio serta 10 orang staf menunggu di desa Batua.</p>
<p>Pada fase pertama, pukul 4 pagi wilayah itu dikepung dan seiring dengan sinyal lampu pukul 5.45 dimulai penggeledahan di rumah-rumah penduduk. Semua rakyat digiring ke desa Batua. Pada fase ini, 9 orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati. Setelah berjalan kaki beberapa kilometer, sekitar pukul 8.45 seluruh rakyat dari desa-desa yang digeledah telah terkumpul di desa Batua. Tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat. Westerling melaporkan bahwa jumlahnya antara 3.000 sampai 4.000 orang yang kemudian perempuan dan anak-anak dipisahkan dari pria.</p>
<p>Fase kedua dimulai, yaitu mencari &#8220;kaum ekstremis, perampok, penjahat dan pembunuh&#8221;. Westerling sendiri yang memimpin aksi ini dan berbicara kepada rakyat, yang diterjemahkan ke bahasa Bugis. Dia memiliki daftar nama &#8220;pemberontak&#8221; yang telah disusun oleh Vermeulen. Kepala Adat dan Kepala Desa harus membantunya mengidentifikasi nama-nama tersebut. Hasilnya adalah 35 orang yang dituduh langsung dieksekusi di tempat. Metode Westerling ini dikenal dengan nama &#8220;Standrecht&#8221; - pengadilan (dan eksekusi) di tempat. Dalam laporannya Westerling menyebutkan bahwa yang telah dihukum adalah 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh.</p>
<p>Fase ketiga adalah ancaman kepada rakyat untuk tindakan di masa depan, penggantian Kepala desa serta pembentukan polisi desa yang harus melindungi desa dari anasir-anasir &#8220;pemberontak, teroris dan perampok&#8221;. Setelah itu rakyat disuruh pulang ke desa masing-masing. Operasi yang berlangsung dari pukul 4 hingga pukul 12.30 telah mengakibatkan tewasnya 44 rakyat desa.</p>
<p>Demikianlah &#8220;sweeping a la Westerling&#8221;. Dengan pola yang sama, operasi pembantaian rakyat di Sulawesi Selatan berjalan terus. Westerling juga memimpin sendiri operasi di desa Tanjung Bunga pada malam tanggal 12 menjelang 13 Desember 1946. 61 orang ditembak mati. Selain itu beberapa kampung kecil di sekitar desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban tewas seluruhnya mencapai 81 orang.</p>
<p>Berikutnya pada malam tanggal 14 menjelang 15 Desember, tiba giliran desa Kalungkuang yang terletak di pinggiran kota Makassar, 23 orang rakyat ditembak mati. Menurut laporan intelijen mereka, Wolter Monginsidi dan Ali Malakka yang diburu oleh tentara Belanda berada di wilayah ini, namun mereka tidak dapat ditemukan. Pada malam tanggal 16 menjelang tanggal 17 desember, desa Jongaya yang terletak di sebelah tenggara Makassar menjadi sasaran. Di sini 33 orang dieksekusi.</p>
<p>[sunting] Tahap kedua<br />
Setelah daerah sekitar Makassar dibersihkan, aksi tahap kedua dimulai tanggal 19 Desember 1946. Sasarannya adalah Polombangkeng yang terletak di selatan Makassar di mana menurut laporan intelijen Belanda, terdapat sekitar 150 orang pasukan TNI serta sekitar 100 orang anggota laskar berenjata. Dalam penyerangan ini, Pasukan DST menyerbu bersama 11 peleton tentara KNIL dari Pasukan Infanteri XVII. Penyerbuan ini dipimpin oleh Letkol KNIL Veenendaal. Satu pasukan DST di bawah pimpinan Vermeulen menyerbu desa Renaja dan desa Komara. Pasukan lain mengurung Polombangkeng. Selanjutnya pola yang sama seperti pada gelombang pertama diterapkan oleh Westerling. Dalam operasi ini 330 orang rakyat tewas dibunuh.</p>
<p>[sunting] Tahap ketiga<br />
Aksi tahap ketiga mulai dilancarkan pada 26 Desember 1946 terhadap Goa dan dilakukan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal 26 dan 29 Desember serta 3 Januari 1947. Di sini juga dilakukan kerjasama antara Pasukan Khusus DST dengan pasukan KNIL. Korban tewas di kalangan penduduk berjumlah 257 orang.</p>
<p>[sunting] Pemberlakuaan keadaan darurat<br />
Untuk lebih memberikan keleluasaan bagi Westerling, pada 6 Januari 1947 Jenderal Spoor memberlakukan noodtoestand (keadaan darurat) untuk wilayah Sulawesi Selatan. Pembantaian rakyat dengan pola seperti yang telah dipraktekkan oleh pasukan khusus berjalan terus dan di banyak tempat, Westerling tidak hanya memimpin operasi, melainkan ikut menembak mati rakyat yang dituduh sebagai teroris, perampok atau pembunuh.</p>
<p>Pertengahan Januari 1947 sasarannya adalah pasar di Pare-Pare dan dilanjutkan di Madello, Abokangeng, Padakalawa, satu desa tak dikenal, Enrekang, Talanbangi, Soppeng, Barru, Malimpung, dan Suppa.</p>
<p>Setelah itu, masih ada beberapa desa dan wilayah yang menjadi sasaran Pasukan Khusus DST tersebut, yaitu pada 7 dan 14 Februari di pesisir Tanette, pada 16 dan 17 Februari desa Taraweang dan Bornong-Bornong. Kemudian juga di Mandar, di mana 364 orang penduduk tewas dibunuh. Pembantaian para &#8220;ekstremis&#8221; bereskalasi di desa Kulo, Amperita dan Maruanging di mana 171 penduduk dibunuh tanpa sedikit pun dikemukakan bukti kesalahan mereka atau alasan pembunuhan.</p>
<p>Selain itu, di aksi-aksi terakhir, tidak seluruhnya &#8220;teroris, perampok dan pembunuh&#8221; yang dibantai berdasarkan daftar yang mereka peroleh dari dinas intel, melainkan secara sembarangan orang-orang yang sebelumnya ada di tahanan atau penjara karena berbagai sebab, dibawa ke luar dan dikumpulkan bersama terdakwa lain untuk kemudian dibunuh.</p>
<p>H.C. Kavelaar, seorang wajib militer KNIL, adalah saksi mata pembantaian di alun-alun di Tanette, di mana sekitar 10 atau 15 penduduk dibunuh. Dia menyaksikan, bagaimana Westerling sendiri menembak mati beberapa orang dengan pistolnya, sedangkan lainnya diberondong oleh peleton DST dengan sten gun.</p>
<p>Di semua tempat, pengumpulan data mengenai orang-orang yang mendukung Republik, intel Belanda selalu dibantu oleh pribumi yang rela demi uang dan kedudukan. Pada aksi di Goa, Belanda dibantu oleh seorang kepala desa, Hamzah, yang tetap setia kepada Belanda.</p>
<p>[sunting] Peristiwa Galung Lombok<br />
Peristiwa maut Galung Lombok terjadi pada tanggal 2 Februari 1947. Ini adalah peristiwa pembantaian Westerling, yang telah menelan korban jiwa terbesar di antara semua korban yang jatuh di daerah lain sebelumnya. Pada peristiwa itu, M. Yusuf Pabicara Baru (anggota Dewan Penasihat PRI) bersama dengan H. Ma&#8217;ruf Imam Baruga, Sulaiman Kapala Baruga, Daaming Kapala Segeri, H. Nuhung Imam Segeri, H. Sanoesi, H. Dunda, H. Hadang, Muhamad Saleh, Sofyan, dan lain-lain, direbahkan di ujung bayonet dan menjadi sasaran peluru. Setelah itu, barulah menyusul adanya pembantaian serentak terhadap orang-orang yang tak berdosa yang turut digiring ke tempat tersebut.</p>
<p>Semua itu belum termasuk korban yang dibantai habis di tempat lain, seperti Abdul Jalil Daenan Salahuddin (Qadhi Sendana), Tambaru Pabicara Banggae, Atjo Benya Pabicara Pangali-ali, ketiganya anggota Dewan Penasihat PRI, Baharuddin Kapala Bianga (Ketua Majelis Pertahanan PRI), Dahlan Tjadang (Ketua Majelis Urusan Rumah Tangga PRI), dan masih banyak lagi. Ada pula yang diambil dari tangsi Majene waktu itu dan dibawa ke Galung Lombok lalu diakhiri hidupnya.</p>
<p>Sepuluh hari setelah terjadinya peristiwa yang lazim disebut &#8220;Peristiwa Galung Lombok&#8221; itu, menyusul penyergapan terhadap delapan orang pria dan wanita, yaitu Andi Tonra (Ketua Umum PRI), A. Zawawi Yahya (Ketua Majelis Pendidikan PRI), Abdul Wahab Anas (Ketua Majelis Politik PRI), Abdul Rasyid Sulaiman (pegawai kejaksaan pro RI), Anas (ayah kandung Abdul Wahab), Nur Daeng Pabeta (kepala Jawatan Perdagangan Dalam Negeri), Soeradi (anggota Dewan Pimpinan Pusat PRI), dan tujuh hari kemudian ditahan pula Ibu Siti Djohrah Halim (pimpinan Aisyah dan Muhammdyah Cabang Mandar), yang pada masa PRI menjadi Ketua Majelis Kewanitaan.</p>
<p>Dua di antara mereka yang disiksa adalah Andi Tonran dan Abdul Wahab Anas. Sedangkan Soeradi tidak digiring ke tiang gantungan, melainkan disiksa secara bergantian oleh lima orang NICA, sampai menghebuskan nafas terakhir di bawah saksi mata Andi Tonra dan Abdul Wahab Anas.</p>
<p>[sunting] Pasca operasi militer<br />
Jenderal Spoor menilai bahwa keadaan darurat di Sulawesi Selatan telah dapat diatasi, maka dia menyatakan mulai 21 Februari 1947 diberlakukan kembali Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger - VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), dan Pasukan DST ditarik kembali ke Jawa.</p>
<p>Dengan keberhasilan menumpas para ekstrimis, di kalangan Belanda baik militer mau pun sipil reputasi Pasukan Khusus DST dan komandannya, Westerling melambung tinggi. Media massa Belanda memberitakan secara superlatif. Ketika pasukan DST tiba kembali ke Markas DST pada 23 Maret 1947, mingguan militer Het Militair Weekblad menyanjung dengan berita: &#8220;Pasukan si Turki kembali.&#8221; Berita pers Belanda sendiri yang kritis mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan baru muncul untuk pertama kali pada bulan Juli 1947.</p>
<p>Kamp DST kemudian dipindahkan ke Kalibata, dan setelah itu, karena dianggap sudah terlalu sempit, selanjutnya dipindahkan ke Batujajar dekat Cimahi. Bulan Oktober 1947 dilakukan reorganisasi di tubuh DST dan komposisi Pasukan Khusus tersebut kemudian terdiri dari 2 perwira dari KNIL, 3 perwira dari KL (Koninklijke Leger), 24 bintara KNIL, 13 bintara KL, 245 serdadu KNIL dan 59 serdadu KL. Tanggal 5 Januari 1948, nama DST dirubah menjadi Korps Speciale Troepen - KST (Korps Pasukan Khusus) dan kemudian juga memiliki unit parasutis. Westerling memegang komando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dan pangkatnya menjadi Kapten.</p>
<p>[sunting] Korban<br />
Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban keganasan tentara Belanda hingga kini tidak jelas. Tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk, yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.</p>
<p>Pemeriksaan Pemerintah Belanda tahun 1969 memperkirakan sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri mengatakan, bahwa korban akibat aksi yang dilakukan oleh pasukannya &#8220;hanya&#8221; 600 orang.</p>
<p>Perbuatan Westerling beserta pasukan khususnya dapat lolos dari tuntutan pelanggaran HAM Pengadilan Belanda karena sebenarnya aksi terornya yang dinamakan contra-guerilla, memperoleh ijin dari Letnan Jenderal Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. van Mook. Jadi yang sebenarnya bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Sulawesi Selatan adalah Pemerintah dan Angkatan Perang Belanda.</p>
<p>Pembantaian tentara Belanda di Sulawesi Selatan ini dapat dimasukkan ke dalam kategori kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity), yang hingga sekarangpun dapat dimajukan ke pengadilan internasional, karena untuk pembantaian etnis (Genocide) dan crimes against humanity, tidak ada kadaluarsanya. Perlu diupayakan, peristiwa pembantaian ini dimajukan ke International Criminal Court (ICC) di Den Haag, Belanda.<br />
<!--~-|**|PrettyHtmlStart|**|-~--></p>
<div><font face="Arial">=======================================================<br />
KESAKSIAN SAKSI MATA PEMBANTAIAN WESTERLING DI MAKASSAR<br />
=======================================================</p>
<p>Selasa, 25 Januari 2000</p>
<p>Diperingati, 50 Tahun Kekejaman Westerling</p>
<p>Bandung, Kompas</p>
<p>Limapuluh tahun kekejaman Westerling dengan pasukannya yang menamakan diri<br />
&#8220;APRA/ Angkatan Perang Ratu Adil&#8221; diperingati di Bandung, Minggu (23/1).<br />
Puncak acara dilakukan dengan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Cikutra, tempat<br />
korban kekejaman dimakamkan.</p>
<p>Ketua Harian Badan Pembina Corps (BPC) Siliwangi Letjen (Purn) Mashudi<br />
mengemukakan, peringatan peristiwa tersebut pada tahun ini sekaligus<br />
mengandung makna sebagai peringatan, betapa kekuatan asing berusaha mengadu<br />
domba bangsa ini.</p>
<p>Ia mengungkapkan, Westerling yang memimpin sekitar 500 pasukan baret hijau<br />
dari Batujajar, Bandung, pada 23 Januari 1950 secara membabi buta membunuh<br />
79 korban. Sebagian besar di antaranya prajurit Siliwangi.</p>
<p>Kapten Raymond Westerling yang dikenal sebagai algojo pembantaian di Medan<br />
dan 40.000 rakyat di Makassar itu, dalam gerakannya telah berkolaborasi<br />
dengan Sultan Hamid II dan pemuka-pemuka Negara Pasundan buatan Van Mook dan<br />
DI/TII yang merencanakan membentuk Negara Islam Pasundan.</p>
<p>Westerling berusaha menduduki Bandung dan selanjutnya merencanakan menduduki<br />
Jakarta.</p>
<p>Dalam usaha menduduki Bandung, pasukannya membunuh setiap pasukan Siliwangi<br />
dan masyarakat yang dijumpai di jalan-jalan di pusat Kota Bandung. Namun<br />
ketika menuju Jakarta, di tengah perjalanan sebagian besar pasukannya<br />
dihabisi pasukan Siliwangi di wilayah Cianjur.</p>
<p>Mashudi mengingatkan, dalam situasi seperti sekarang ini di mana ancaman<br />
disintegrasi bangsa tengah mengancam, peristiwa APRA di Bandung sekaligus<br />
merupakan pencerminan betapa pentingnya meningkatkan rasa nasionalisme.</p>
<p>Sebagai orang Indonesia sebagian besar dari kita mungkin pernah mendengar<br />
nama Westerling. Kapten Raymond Paul Pierre &#8220;Turk&#8221; Westerling dalam sejarah<br />
Indonesia digambarkan sebagai seorang algojo berdarah dingin yang<br />
bertanggung jawab atas pembantaian kurang lebih 40,000 orang sipil Indonesia<br />
di Sulawesi Selatan pada saat perang revolusi kemerdekaan.</p>
<p>Yang mungkin banyak orang tidak tahu adalah dia menulis dan menerbitkan<br />
memoarnya pada tahun 1952 berjudul, &#8220;Mijn Memoires&#8221; yang diterjemahkan<br />
dengan judul baru dalam bahasa Inggris, &#8220;Challenge to Terror&#8221; yang isinya<br />
menceritakan pengalamannya selama di Hindia Belanda (Indonesia). Westerling<br />
lahir di Turki pada tahun 1919 (karena itu dia mendapatkan julukan &#8220;Turk&#8221;)<br />
berayahkan seorang Belanda dan ibu orang Yunani.</p>
<p>Didalam memoarnya Westerling mengaku membunuh banyak teroris, bukan orang<br />
sipil dan jumlahnya tidak sampai 40,000 orang seperti yang dituduhkan pihak<br />
Indonesia, tetapi &#8220;hanya&#8221; sekitar 1500 orang. Dia yakin betul semua orang<br />
yang dibunuhnya dan pasukannya adalah teroris-teroris yang selalu meneror<br />
orang-orang sipil. Dia bahkan menegaskan sewaktu dia melaksanakan operasi<br />
militer di Sulawesi Selatan, situasi disana menjadi aman dan orang-orang<br />
sipil Indonesia sangat menyenangi dan bersimpati kepada dia. Bahkan mereka<br />
sampai ramai-ramai mengantar dia dengan penuh rasa haru sewaktu dia<br />
meninggalkan Makassar.</p>
<p>Gambaran yang diberikan Westerling dalam memoarnya sangat bertolak belakang<br />
dengan apa yang kita dengar atau tahu tentang operasi militer Westerling di<br />
Sulawesi selatan. Tentu saja terlepas dari pribadi kita masing-masing mau<br />
percaya pada pendapat yang mana. Kita bisa saja berpendapat apa yang ditulis<br />
dan diucapkan Westerling semuanya adalah dusta belaka. Tetapi di lain pihak<br />
pasti ada juga orang-orang yang menganggap Westerling itu pahlawan dan<br />
penyelamat mereka dan bukan seorang algojo berdarah dingin.</p>
<p>Contoh mengenai Westerling hanyalah satu contoh dimana adanya suatu<br />
perspektif yang berbeda dari apa yang kita tahu selama ini. Disinilah<br />
kemudian timbul masalah untuk menulis sebuah sejarah yang obyektif atau di<br />
Indonesia sering disebut sebagai sejarah yang &#8220;lurus&#8221;. Pertanyaannya<br />
sekarang adalah seperti apa itu sejarah yang dikatakan obyektif dan lurus?<br />
Menurut siapa atau siapa yang berhak untuk mengatakan atau melabel satu<br />
versi sejarah itu lurus dan lainnya bengkok?</p>
<p>Masalah utama dalam penulisan sejarah di Indonesia adalah penulisan yang<br />
hanya mengacu kepada satu kepentingan, dalam hal ini kepentingan untuk<br />
meningkatkan semangat nasionalisme bangsa. Tetapi di lain pihak metode<br />
semacam ini tidak membuat orang menjadi kritis untuk kemudian memikirkan dan<br />
mempertanyakan apa yang pernah diajarkan. Yang terjadi malahan adalah<br />
pengkerdilan wawasan dan pembentukan nasionalisme sempit karena pengajaran<br />
dan penulisan sejarah lebih menjadi sebuah indoktrinasi ideologi bukan<br />
sebagai sesuatu untuk dipahami dan dipelajari.</p>
<p>Suatu perpektif yang berbeda dalam melihat suatu catatan sejarah penting<br />
untuk segera dimulai dan diperbanyak didalam penulisan dan pengajaran<br />
sejarah. Hal ini bukan untuk membingungkan kita tetapi justru untuk<br />
memperkaya perspektif dan wawasan kita. Terlepas sumber siapa yang ingin<br />
kita percaya, perbedaan suatu pandangan harus tetap dihormati dan jangan<br />
dihalang-halangi apalagi ditekan. Kalau kita sudah biasa dengan atmosfir<br />
seperti ini niscaya bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar karena<br />
selain tidak melupakan pahlawan dan sejarahnya tetapi juga karena menjadi<br />
bangsa yang kritis.</p>
<p>Berikut ini adalah kesaksian dari seorang saksi mata:<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Menanggapi tulisan dari bapak Sie Hok Tjwan yang menuliskan peranan Tionghoa<br />
keturunan dalam sejarah Indonesia pada Indonesia Media edisi November 1999.<br />
Terutama peranan mereka dalam menghentikan peristiwa pembunuhan 40.000 jiwa<br />
di Makassar (sumber lain menyebut 5-10 ribu jiwa). Saya sebagai cicit dari<br />
Kong Siu Tjoan tergerak untuk menuliskan kisah ini yang saya dengar lansung<br />
dari kakek saya.</p>
<p>Konon pada waktu itu, Ida kuneng putri raja Maros jatuh cinta dengan seorang<br />
perantau Tiongkok yang baru datang dari Tiongkok daratan. Pemuda yang<br />
bermarga Kong ini ikut berjuang dengan Sun Yat Sen sebagan nasionalis, namun<br />
melarikan diri dari Tiongkok ketika Komunis mulai masuk dan menguasai<br />
Peking. Dari perkawina ala sam pek in tai ini diturunkanlah keturunan<br />
peranakan yang beragama Islam dan peranakan yang beragama Buddha. Kebetulan<br />
nenek saya dalam kelompok peranakan yang beragama Buddha.</p>
<p>Rumah kakek saya di Tamajene, hanya beberapa blok dari tugu  peringatan<br />
korban 40.000 jiwa.</p>
<p>Yaitu suatu tragedi pembantaian besar-besaran oleh Belanda kepada penduduk<br />
Makassar atau merah putih pada waktu itu. Nenek saya sebagai saksi mata dari<br />
pembantaian itu seringkali masih berkaca- kaca ketika menceritakan<br />
pembantaian yang mengerikan itu.</p>
<p>Pada waktu itu, terdengar desas desus bahwa akan ada pembersihan.<br />
Barangsiapa yang didapati menyembunyikan bendera merah putih akan diangkut<br />
sekeluarga dan dibunuh. Dan benar pada siang itu, jalan didepan rumah<br />
dipenuhi dengan ratap tangis orang -orang yang kedapatan mempunyai merah<br />
putih. Mereka dibawa ketanah kosong dan rawa-rawa di belakang rumah kami.<br />
Konon waktu itu mereka disuruh menggali lubang besar, setelah itu disuruh<br />
berdiri berjajar dan ditembaki dari belakang. Begitu selanjutnya. Ratap<br />
tangis minta ampun ibu-ibu, anak-anak, terdengar sangat memilukan. Semakin<br />
siang semakin banyak orang yang dibawa oleh tentara belanda. Suara tembakan<br />
terdengar tidak henti-hentinya.</p>
<p>Seisi rumah dicekam ketakutan yang luar biasa. Pintu dan jendela ditutup<br />
rapat-rapat. Yang laki-laki dengan bersenjatakan tombak menunggu dengan<br />
was-was. Nenek saya yang baru menikah waktu itu bersembunyi dengan pisau<br />
ditangan. Beruntung rumah kami sama sekali tidak diperiksa, entah karena<br />
kebetulan atau karena rumah orang Tionghoa. Dan disangka tidak punya merah<br />
putih.. Tidak tahan mendengar suara orang dibunuh, dengan memberanikan diri<br />
kakek saya menulis surat ke konsulat general (Wang Tek Fun) atau atase<br />
perdagangan Tionghoa waktu itu, bahwa pembantaian tersebut melanggar<br />
perjanjian dan tidak berperikemanusiaan. Dengan mengendap ngendap dan<br />
mempertaruhkan nyawa dia membawa surat tersebut.</p>
<p>Pada saat itu jalan-jalan menjadi sangat lengang, kedapatan di jalan bisa<br />
berakibat dituduh sebagai mata-mata atau merah putih, panggilan Westerling<br />
kepada pejuang kemerdekaaan pada waktu itu. Berbekal bintang mas tanda jasa<br />
dari Sun yat Sen kepada bapaknya, sebagai tanda pengenal, setelah mendapat<br />
pemberitahuan itu, konsul Tiongkok datang dan menghentikan pembantaian<br />
tersebut. Menurut nenek saya, kalau tidak ada interfensi dari konsul RRT<br />
tersebut akan lebih banyak lagi orang mati terbunuh di Makassar. Cerita ini<br />
tidak pernah diketahui oleh orang luar, hanya kalangan keluarga saja . Saya<br />
sangat surprise bahwa pak Sie Hok Tjwan bisa mengetahui akan kisah<br />
dibelakang layar ini.(BC/IM)<br />
</font></div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/andit2anggi.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/andit2anggi.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andit2anggi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andit2anggi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andit2anggi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andit2anggi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andit2anggi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andit2anggi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andit2anggi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andit2anggi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andit2anggi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andit2anggi.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andit2anggi.wordpress.com&blog=2733515&post=44&subd=andit2anggi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/06/the-westerling-massacre-1947/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/andit2anggi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggoro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MiG-21 Fishbed</title>
		<link>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/05/43/</link>
		<comments>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/05/43/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Mar 2008 05:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andit2anggi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/05/43/</guid>
		<description><![CDATA[MiG-21 Fishbed:
Benteng Indonesia yang Ampuh

Angkasa Megazine/Photo Alex S -Walau tidak sempat mempertunjukkan kebolehannya, harus diakui, daya gertak pesawat Rusia satu ini, memang hebat. Amerika, konon, sampai menghimbau Belanda untuk membatalkan niatnya perang terbuka dengan Indonesia. 





Begini ceritanya. Ketika Presiden Soekarno menyatakan perang terbuka dengan Belanda awal tahun 1960, semua unsur kekuatan disiagakan. AURI sampai detik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><b>MiG-21 Fishbed:</b></p>
<p align="center"><!-- Judul Besar --><font size="6" color="#0000ff" face="times"><b>Benteng Indonesia yang Ampuh</b></font></p>
<p align="center"><font size="6" color="#0000ff" face="times"><strong></strong><img border="0" src="http://members.tripod.com/~imogiri/aircraft/mig-21-05.jpg" /></font></p>
<p><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"><b>Angkasa Megazine/Photo Alex S -</b><b>Walau tidak sempat mempertunjukkan kebolehannya, harus diakui, daya gertak pesawat Rusia satu ini, memang hebat. Amerika, konon, sampai menghimbau Belanda untuk membatalkan niatnya perang terbuka dengan Indonesia.</b></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"> </font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></font></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></p>
<table align="left" width="1">
<tr>
<td align="center"><font size="2" color="#000000" face="times"></font></td>
</tr>
</table>
<p>Begini ceritanya. Ketika Presiden Soekarno menyatakan perang terbuka dengan Belanda awal tahun 1960, semua unsur kekuatan disiagakan. AURI sampai detik itu sudah memiliki 49 MiG-17 <i>Fresco</i>. Setengah dari kekuatan sudah bercokol di Morotai, Amahai, dan Letfuan. Ada juga P-51 <i>Mustang</i>, Il-28 <i>Beagle</i>, B-25 <i>Mitchell</i>, B-26 <i>Invader</i>, C-47 <i>Dakota</i> serta C-130 <i>Hercules</i>. Belanda masih garang sampai detik ini. Boleh jadi, karena kapal induk <i>Karel Doorman</i> sudah membuang jangkar di Biak sejak tanggal 6 Agustus 1960.</p>
<p></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Hingga suatu hari, sebuah pesawat intai AU AS Lockheed U-2 <i>Dragon Lady</i> melayang di atas Madiun. Selama konfrontasi, sering pesawat ini sengaja diterbangkan dari Darwin ke Filipina untuk misi-misi intelijen. Dari ketinggian 70.000 kaki, teridentifikasi oleh pilot beserta kru deretan jet tempur dan pembom. Ditiliknya dengan cermat. Tak salah lagi, sang pilot yakin bahwa pesawat yang dilihatnya adalah pembom Tu-16 <i>Badger</i> dan MiG-21F <i>Fishbed</i> C (sebutan yang diberikan NATO), jet tempur penghadang (<i>intercept</i>) paling ditakuti barat kala itu. Sebelumnya, intelijen AS sudah mengendus kedatangan MiG-21 di Indonesia.</font></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Hasil pengintaian ini bergegas disampaikan Amerika kepada Belanda. &#8220;Percuma melawan Indonesia, mereka punya ini.&#8221; Begitu kira-kira laporan intel AS kepada pihak Belanda sambil menyodorkan foto hasil jepretan pesawat U-2. Amerika pun sebenarnya masih gamang, mengingat F-4E <i>Phantom</i> yang baru dimodifikasi, masih meragukan untuk diadu berlaga melawan MiG-21. Seriusnya ancaman MiG-21 terhadap pesawat tempur AS, sampai membuat AL AS mendirikan sekolah elit tempur <i>Top Gun</i>.</font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Begitu cerita Marsda (Pur) Jahman, penerbang MiG-21 AURI. Menurut Jahman (65), Indonesia membeli MiG-21 sebagai tindakan bela diri andaikata Belanda mendatangkan pesawat-pesawat yang lebih modern. Ketika kampanye Trikora dicanangkan, AU Belanda memiliki satu skadron pesawat Hawker <i>Hunter</i> F.6 buatan Inggris tahun 1954. Disejajarkan dengan MiG-21, pesawat ini jelas bukan tandingan. Kecepatan maksimumnya hanya 1.117 km/jam, daya capai ketinggian 14.325 meter dengan jangkauan 690 kilometer. Kalau terbang rendah, pemakaian bahan bakarnya akan bertambah boros. Sementara MiG-21, dengan kecepatan Mach-2,1 mampu mencegat pembom pada ketinggian 20 kilometer pada jarak 1.800 kilometer.</font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></p>
<h5><b>Terbang perdana</b></h5>
<p><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></p>
<table align="left" width="1">
<tr>
<td align="center"><font size="2" color="#000000" face="times"></font></td>
</tr>
</table>
<p>Sebagai persiapan menyambut kedatangan si &#8220;pencegat&#8221;, AURI telah menyiapkan dua jalur pembentukan penerbang MiG-21. Yang pertama, dengan cara mengirimkan langsung empat penerbangnya ke Uni Soviet. Yaitu Kapten Udara Sukardi, Letnan Udara I Jahman, Letnan Udara II Igon Suganda, dan Letnan Udara II Mundung dua penerbang terakhir di-<i>grounded</i> setibanya di Rusia. Mundung didera sakit, sedangkan Suganda terlalu kecil. <i>Pressure suit</i> nomor kecilpun, masih terlalu besar untuknya. Karena itu kemudian diganti dengan Letnan Udara I Sobirin Misbach dan Letnan Udara I Saputro. </font></p>
<p><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Langkah kedua, sebaliknya, di dalam negeri. Mayor Udara Rusman ditunjuk Komodor Udara Leo Wattimena untuk mendapatkan pelatihan langsung dari instruktur yang sengaja didatangkan dari Rusia. &#8220;Jadi kita dilatih hampir bersamaan. Hanya beda tempat,&#8221; tutur Marsda (Pur) Rusman.</font></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Tim kecil yang dikirim ke Uni Soviet, persisnya di Lugowaya, sebuah kota kecil yang berbatasan langsung dengan India di mana sebuah pangkalan AU Uni Soviet bercokol, pun tidak berlama-lama di negeri tirai besi itu. Hanya empat bulan, &#8220;Sekadar <i>just to know how to fly</i>,&#8221; jelas Jahman. &#8220;Bukan berarti tidak terbang, tetap terbang, kita solo,&#8221; tambahnya.</font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Ketika mendapat perintah berangkat ke Rusia, Jahman baru beberapa bulan <i>standby</i> di Letfuan, setelah sebelumnya siaga di Morotai dalam mendukung kampanye Trikora. Menurut Jahman, kepindahannya ke Letfuan menyusul gugurnya Kapten Udara Gunadi setelah pesawat MiG-17 yang diterbangkannya gagal <i>take off</i> karena <i>afterburner</i>-nya tidak maksimal. Tragedi itu terjadi tanggal 29 Juni 1962. Komandan skadron MiG-17 saat itu dijabat Mayor Rusman.</font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Bagi yang berangkat ke Rusia mungkin tidak terlalu kesulitan, karena langsung ke asalnya. Lain halnya Rusman. &#8220;Saya harus melabeli dulu dengan bahasa Inggris semua panel-panel di kokpit, yang sebelumnya berbahasa Rusia,&#8221; aku Rusman. Setibanya di Indonesia, pesawat MiG-21 langsung dirakit. Para teknisi Rusia segera membimbing teknisi Indonesia. Rusman pun mulai mempersiapkan diri. Perang yang tidak ketahuan kapan akan berkecamuk di Papua Barat, terpaksa ditinggalkannya. Rencananya, tentu Rusman akan dikembalikan ke medan perang seandainya Belanda benar-benar serius untuk perang.</p>
<p>Disamping perwira senior di skadron fighter, Rusman juga menjabat perwira operasi Skadron Udara 11 DH-115 <i>Vampire</i>, jet latih pertama Indonesia. Tak salah, melihat keseniorannya, Leo mempercayainya sebagai orang pertama yang menerbangkan MiG-21 di dalam negeri. Kebetulan, Leo juga harus ke luar negeri. Rusman tidak terlalu kesulitan untuk mengakrabkan diri dengan MiG-21, mengingat ratusan jam terbang sudah dikantonginya dari MiG-15 dan MiG-17. &#8220;Pada dasarnya tidak jauh beda dengan MiG-17,&#8221; kata Rusman perihal pesawat bersayap delta ini.</p>
<p>Program kilat dimulai. Buku manual MiG-21 dilahapnya, para instruktur Rusia dengan tekun menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Pesawat rampung dirakit teknisi dan dinyatakan <i>ready to fly</i>. Tibalah Rusman pada saat yang menentukan, yaitu menerbangkan pesawat yang disebut sebagai roket terbang di hadapan beberapa pejabat penting yang, katanya, mau hadir. &#8220;Secara teoritis saya sudah paham,&#8221; aku Rusman.</p>
<p>Pagi itu, Juli 1962, segala persiapan dilakukan di Bandara Kemayoran. Sebagian dari MiG-17 dan MiG-15 yang berpangkalan di Kemayoran, terlihat berjejer di pelataran parkir. Benar saja, KSAU Laksamana Suryadarma dan beberapa pejabat teras AURI sudah terlihat hadir. Di hanggar, sebuah mesin turbojet Tumansky R-11-F2-300 mulai memekakkan telinga. Pesawat siap bergerak ke landasan pacu. Tidak ada perasaan janggal bagi Rusman, sama seperti menerbangkan pesawat Rusia terdahulu. Di ujung landasan, gemuruh mesin jet berdaya dorong 5.950 kilogram meninggi. Itulah tenaga penuh karya spektakuler biro disain Mikoyan-Gurevich (OKB).</p>
<p>Rusman mencelat meninggalkan tanah, menanjak, meninggalkan hadirin dengan tepuk tangannya yang riuh rendah. Menurut rute yang di-<i>plot</i>, pesawat akan belok ke kiri. Rusman menyentakkan tangkai kemudi (<i>handle</i>) ke kiri. Astaga, dia kaget, pesawat melintir kencang. Tak dikiranya akan begitu sensitif. Tapi kesadarannya cepat muncul. &#8220;Ya sudah, saya putar saja sekalian sampai empat kali,&#8221; katanya tertawa. Setelah mendarat, didapatinya ucapan selamat dan decak kagum. Hadirin takjub melihat Rusman yang sanggup membuat roll sampai beberapa kali. &#8220;Mereka <i>nggak</i> tahu kagetnya saya.&#8221;</p>
<p>Beberapa hari kemudian, jelas Rusman, Skadron 14 berkekuatan 20 MiG-21 yang bermarkas di Lanud Iswahyudi, Madiun, diresmikan KSAU di Bandara Kemayoran. Rusman langsung ditunjuk sebagai komandan. Sebelumnya sudah diresmikan Skadron 11 MiG-15/17. Sedangkan Skadron 12 MiG-19, justru dibentuk belakangan. Kemudian dibentuk pula Wing 300, induk skadron-skadron tempur yang bermarkas di Kemayoran. Rusman ditunjuk sebagai komandan Wing 300 dari tahun 1963 sampai 1966.</p>
<p>Penerbangan pertama diikuti beberapa penerbang berikutnya. Menyusul transisi penerbang. <i>Nun</i>, ribuan kilometer di utara, Jahman beserta ketiga rekannya juga mulai menerbangkan pesawat yang sama. Nantinya, setelah kembali dari Lugowaya (1963), keempat penerbang ini bersama Rusman menjadi instruktur pesawat yang mulai dipakai Uni Soviet tahun 1959 dan dipertahankan di garis terdepan pertahanan selama 30 tahun. Target utama AURI yaitu, mempercepat alih teknologi dari penerbang Rusia ke Indonesia.</p>
<h5><b>Seruduk hutan jati</b></h5>
<p>Seorang komandan harus lebih dulu tahu segalanya dari anak buah. Filosofi ini dipegang Rusman sebagai komandan skadron. Penguasaan menerbangkan MiG-21 terus dilakukannya baik melalui petunjuk buku manual maupun dari instruktur. Satu hari, sebulan setelah terbang perdana, Rusman terbang seorang diri dalam sebuah misi untuk menguji kemampuan <i>high speed</i> pesawat. Pagi itu, 29 Agustus 1962, pemilik 1.500 jam terbang MiG-21 ini bertolak dari Madiun dengan rute seputaran Jawa Timur (baca: <b>Rusman Tembus Mach-2</b>).</p>
<p>&#8220;Yang mengejutkan saya saat harus terbang high speed adalah, bahwa pesawat ini ternyata lebih cepat dari pikiran saya,&#8221; kata si &#8220;Hell Cat&#8221;, panggilan Rusman di udara. Persis seperti yang dirasakan Rusman, kehebatan inilah yang diunggulkan Soviet untuk menahan laju pembom B-52 <i>Stratofortress</i> AU AS yang kecepatan mendekati Mach-1. Bagi Indonesia hampir serupa. Menahan ancaman pembom negara-negara musuh menjadi tugas utama MiG-21. &#8220;Kita harus sanggup mengintersep pada titik dimana mereka bisa merilis bom,&#8221; jelas Jahman, mantan Danlanud Iswahyudi itu.</p>
<p>Untuk mendukung akselerasinya secepat mungkin mencegat pembom, MiG-21 dilengkapi afterburner. Malasalahnya, kadangkala afterburnernya tidak berfungsi dengan baik saat pesawat tengah menggandul sebuah bom konvensional &#8220;jatuh bebas&#8221; seberat 500 kilogram. Kesalahan teknis ini sempat merenggut nyawa beberapa penerbang MiG-21. Seperti pada satu ketika, tepatnya hari Kamis, saat dilangsungkan latihan terbang tinggi di Madiun.</p>
<p>Seorang penerbang, ingat Rusman, gagal lepas landas, karena tenaga tambahannya tidak bekerja sempurna. Pesawatnya terus merambat cepat di permukaan landasan, baru hidung yang terangkat. Anak muda ini terus berusaha, dihidupkannya lagi. Dia sadar, ujung landasan sekian detik lagi habis. Tanpa pikir panjang, ditariknya kursi pelontar (<i>ejection seat</i>) bermaksud <i>bail out</i>. Pesawat tercebur masuk sungai di ujung landasan.</p>
<p>Sulit berpikir jernih kala terjepit. Mungkin itu yang dialami anak muda ini. Dalam kepanikkannya, ditariknya kursi pelontar yang jelas tidak menerapkan teknologi <i>zero ejection seat</i> baru aktif pada ketinggian 1.000 kaki. Pemuda berkemauan besar itu menghembuskan napas terakhir. &#8220;Padahal dia sudah minta izin pada saya, usai terbang akan ke Yogya untuk melangsungkan pertunanganan pada hari Sabtu,&#8221; kenang Rusman. Sebelumnya, di hari Selasa, kecelakaan juga menimpa seorang penerbang. Sebuah pesawat jatuh di hutan jati, daerah Cepu, dalam sebuah latihan terbang malam. Pesawat menyambar pohon jati sepanjang satu kilometer.</p>
<p>Seorang penerbang lainnya juga membuat kekeliruan saat akan mendarat. Padahal, aku Rusman, dia sudah memberitahu kalau mengurangi kecepatan dari high speed, <i>intake</i>-nya akan membuka. Proses ini akan menimbulkan getaran. Celakanya, karena kaget, dia langsung <i>eject</i>. Penerbangnya <i>sih</i>, selamat, tapi pesawatnya hancur.</p>
<p>Rusman sendiri juga nyaris celaka gara-gara afterburner, ketika berangkat dari Kemayoran ke Madiun. Ketenangan serta segudang pengalaman, menjadi sangat mahal dalam kondisi ini. Rusman sangat sadar, kecepatan pesawat saat itu hanya pas untuk melayang. Salah <i>handling</i> sedikit saja, fatal. Sayapnya yang teramat tipis, hampir tidak bisa diharapkan memberikan daya angkat besar. Pesawat melayang persis di atas atap rumah penduduk.</p>
<h5><b>Cross country MiG-21</b></h5>
<p><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></p>
<table align="left" width="1">
<tr>
<td align="center"><img vspace="1" src="http://www.angkasa-online.com/10/05/kisah/kn04.jpg" alt="MiG-21 AURI" /> <font size="2" color="#000000" face="times"><i>Kegagahannya berakhir mengharukan</i> </font></td>
</tr>
</table>
<p>Walau sangat cepat, pesawat pencegat MiG-21 tidak bisa diharapkan mengerjakan tugas-tugas strategis. Kemampuannya hanya untuk mengangkasa dengan cepat, terbang cepat, kombat, dan pulang! <i>Endurance</i>-nya kecil. </font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Menyadari keterbatasan pesawat, sementara wilayah Indonesia teramat luas untuk dipertahankan dan dijangkau MiG-21. Namun rasa bela negara, terlalu besar untuk dikalahkan oleh keterbatasan pesawat. Sebagai uji coba, Rusman terbang keliling Jawa Timur. Ternyata pesawatnya hanya mampu terbang 1 jam 40 menit. &#8220;Itupun sudah dengan <i>drop tank</i> dan teknik terbang yang irit,&#8221; katanya.</font></font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Satu jam 40 menit. Apa yang bisa dijangkau dari Jakarta? Mulailah mereka menghitung. Medan bisa! &#8220;Tapi tidak bisa pulang,&#8221; jawab Rusman. Bagaimana kalau cuaca buruk, tiba-tiba <i>engine trouble</i>, atau ada gangguan di landasan? Padahal terbangnya harus lurus, tidak ada toleransi &#8220;belok kiri-kanan&#8221;. Waktu tempuh Kemayoran-Medan sekitar 1 jam 30 menit. Artinya, hanya tersisa 10 menit untuk keadaan darurat. Berbagai pertanyaan bergalau dibenak Rusman. Namun dia sudah memutuskan, pulau-pulau besar di luar Jawa harus didarati.</font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Medan akhirnya dikunjungi. Kurang puas, Rusman, Sukardi, dan Ibnu Subroto, melakukan terbang <i>cross country</i> melintas Sumatera pada tahun 1963. Dengan mengambil rute Kemayoran-Palembang-Medan-Padang-Kemayoran, ketiga pencegat menyambar-nyambar di setiap daerah yang disinggahi. Mereka juga menginap di ketiga kota yang didarati. Sambutan masyarakat begitu antusias.</font><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif">Sukses rupanya. Karena itu, perjalanan dilanjutkan ke Indonesia bagian timur setahun kemudian. Kali ini lebih banyak, melibatkan enam pesawat. Rute yang diambil : Madiun-Makasar-Morotai-Biak. Dalam jumlah besar, MiG-21 pernah melakukan formasi sembilan pesawat. Cross country ini dilakukan bukan untuk unjuk kekuatan AURI, &#8220;Tapi untuk meningkatkan skill, dan orientasi daerah bagi penerbang,&#8221; jelas Rusman lagi.</p>
<p>Ketika konfrontasi dengan Malaysia yang dikenal dengan kampanye Dwikora, Indonesia menyiagakan pembom Tu-16 dan MiG-21. Karena jangkauannya yang kecil, pesawat harus ditempatkan di Palembang dan Medan. Selama pengabdiannya di AURI, memang tidak ada pengalaman perang udara hebat yang ditinggalkan MiG-21 bagi generasi berikutnya. Selama Dwikorapun, hanya beberapa kali berpapasan dengan pesawat Hawker Hunter atau HS <i>Buccaneer</i> Inggris saat mengawal Tu-16.</p>
<p>Leo Wattimena sendiri memang tidak menghendaki adanya duel udara di antara kedua belah pihak. &#8220;Kecuali ditembak,&#8221; perintah Leo. Namun begitu, dua rudal K-13A atau NATO menyebutnya AA-2 <i>Atoll</i> dan kanon 30 mm, tetap disiagakan. Biarpun dilarang bertindak provokasi, ada saja beberapa penerbang yang berbuat iseng. Maksudnya hanya ingin melihat kesiapan radar lawan.</p>
<p>Dengan <i>airborne</i> dari Medan, pesawat terbang <i>low level</i> menyusuri selat Malaka. Begitu menjelang perbatasan, tower akan berteriak memberitahu ada pesawat naik dari Butterworth. &#8220;Kita langsung <i>pull up</i>, kabur,&#8221; jelas Jahman yang menjabat komandan Skadron 14 setelah Rusman. Saat pesawat Inggris tiba di perbatasan, MiG-21 AURI sudah terbang jauh. &#8220;Kita (MiG-21) memang tidak pernah perang. Sebagai pencegat, kita hanya menunggu lawan yang tidak pernah jelas. Itulah tugas kita, menunggu dan menunggu,&#8221; tutur Jahman yang menerbangkan MiG-21 nomor 2164.</p>
<p>Bagi Rusman maupun Jahman, agak kelam nasib MiG-21 pasca &#8220;pemberontakan yang gagal&#8221; oleh komunis Indonesia. Kedua penerbang MiG generasi pertama ini, kurang begitu tahu apakah betul MiG-21 di jual. Lain halnya dengan MiG-19. &#8220;Saya sendiri yang mengantarkan ke Pakistan, sekalian melatih penerbangnya,&#8221; aku Rusman. Soal pembelian MiG-19, ditambahkan Jahman, terpaksa dibeli Indonesia ulah politik dagang Rusia. Soalnya, sepengetahuan Jahman, Rusia hanya bersedia melepas MiG-21 asalkan MiG-19-nya juga dibeli.</p>
<p>Menurut polemik yang beredar saat itu, Indonesia memberikan MiG-19 kepada Pakistan karena merasa dikerjain. Gosip yang beredar seperti diceritakan Jahman, satu ketika Pakistan memberi pesawat angkut yang ternyata bobrok. Ketahuannya, sejak mendarat pesawat sumbangan ini tidak pernah diterbangkan lagi. Dari karakteristik pesawat yang diceritakan Jahman, sepertinya pesawat dimaksud adalah Lockheed <i>Constellation</i>. Itulah sebabnya, MiG-19 diberikan kepada Pakistan. Kondisi MiG-19 sebenarnya tidak terlalu baik. Pesawatnya selalu tidak siap untuk diterbangkan. &#8220;Padahal teknisi sudah menyatakan bagus. Begitu kita hidupkan, selalu ada saja yang tidak benar,&#8221; aku Jahman.</p>
<p>Namun yang jelas, bagi Pakistan yang tengah terlibat perang dengan India, jelas berharga. Selain Indonesia, Cina juga menyumbangkan pesawat yang sama. Niat hatinya, Pakistan sebenarnya ingin meminjam pembom Tu-16 AURI yang dipersenjatai rudal AS 1 <i>Kennel</i>, tapi ditolak Men/Pangau Omar Dhani.</p>
<p>&#8220;Saya tidak tahu apakah betul dijual dan kemana. Kalau benar, palingan itu urusan orang-orang <i>gede</i>,&#8221; kilah Rusman yang selalu menerbangkan pesawat MiG-21 bernomor 2160 dan 2170 tersenyum kecut. &#8220;Pesawat itu hebat sekali,&#8221; tutur Rusman berkali-kali, seperti tidak puas memuji kehebatan sang pencegat. MiG-21 AURI mengakhiri zaman keemasannya setelah <i>farewell flight</i> sebulan penuh, pada tahun 1967.<b>(ben)</b></p>
<p></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/andit2anggi.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/andit2anggi.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andit2anggi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andit2anggi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andit2anggi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andit2anggi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andit2anggi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andit2anggi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andit2anggi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andit2anggi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andit2anggi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andit2anggi.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andit2anggi.wordpress.com&blog=2733515&post=43&subd=andit2anggi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/05/43/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/andit2anggi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggoro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://members.tripod.com/~imogiri/aircraft/mig-21-05.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.angkasa-online.com/10/05/kisah/kn04.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">MiG-21 AURI</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tupolev Tu-16 Badger</title>
		<link>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/05/42/</link>
		<comments>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/05/42/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Mar 2008 04:41:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andit2anggi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/05/42/</guid>
		<description><![CDATA[Tu-16 Badger : 
Stealth Bomber from South

 




&#160;




Angkasa Megazine
- Bahkan Cina maupun Australia belum punya armada pembom strategis bermesin jet. Sampai awal tahun 60-an hanya Amerika yang memiliki pembom semacam(B-58 Hustler), Inggris (V bomber-nya, Vulcan, Victor, serta Valiant) dan Rusia. Pembelian Tu-16 AURI didasari, terbatasnya kemampuan B-25, embargo suku cadang dari Amerika, dan untuk memuaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><font size="6" color="#0000ff" face="times"></font><font size="6" color="#0000ff" face="times"><font size="3" color="#000000" face="Georgia"></font><strong>Tu-16 Badger : </strong></font></p>
<p align="center"><font size="6" color="#0000ff" face="times"><strong></strong><!-- Judul Besar --><font size="6" color="#0000ff" face="times">Stealth Bomber from South</font></font></p>
<p><font size="6" color="#0000ff" face="times"><font size="6" color="#0000ff" face="times"></font></font></p>
<p><font size="6" color="#0000ff" face="times"><font size="6" color="#0000ff" face="times"><a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/2/28/Tu-16_AURI.jpg"><img border="0" width="369" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/2/28/Tu-16_AURI.jpg" alt="Tu-16 AURI.jpg" height="192" /></a></font><font size="2" color="#000000" face="times"><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></font></font></font><font size="6" color="#0000ff" face="times"><font size="2" color="#000000" face="times"><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"> </font></font></font><font size="6" color="#0000ff" face="times"><font size="2" color="#000000" face="times"><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></p>
<div align="left">
<table align="left" width="1">
<tr>
<td align="center">
<p align="left">&nbsp;</p>
</td>
</tr>
</table>
</div>
<div align="left">Angkasa Megazine</div>
<div align="left">- Bahkan Cina maupun Australia belum punya armada pembom strategis bermesin jet. Sampai awal tahun 60-an hanya Amerika yang memiliki pembom semacam(B-58 <i>Hustler</i>), Inggris (<i>V bomber</i>-nya, <i>Vulcan</i>, <i>Victor</i>, serta <i>Valiant</i>) dan Rusia. Pembelian Tu-16 AURI didasari, terbatasnya kemampuan B-25, embargo suku cadang dari Amerika, dan untuk memuaskan ambisi politik.</div>
<div align="left"></div>
<div align="left">&#8220;Tu-16 masih dalam pengembangan dan belum siap untuk dijual,&#8221; ucap Dubes Rusia untuk Indonesia Zhukov kepada Bung Karno (BK) suatu siang di penghujung tahun 50-an. Ini menandakan, pihak Rusia masih bimbang untuk meluluskan permintaan Indonesia membeli Tu-16. Tapi apa daya Rusia, AURI <i>ngotot</i>. BK terus menguber Zhukov tiap kali bersua. &#8220;<i>Gimana nih</i>, Tu-16-nya,&#8221; kira-kira begitu percakapan dua tokoh ini.</div>
<div align="left">Akhirnya, mungkin bosan dikuntit terus, Zhukov melaporkan juga keinginan BK kepada Menlu Rusia Mikoyan. Usut punya usut, kenapa BK begitu semangat? Ternyata, Letkol Salatun-lah pangkal masalahnya. &#8220;Saya ditugasi Pak Surya (KSAU Suryadarma-Red) menagih janji Bung Karno setiap ada kesempatan,&#8221; aku Marsda (Pur) RJ Salatun tertawa.</div>
<div align="left">Ketika ide pembelian Tu-16 dikemukakan Salatun saat itu sekretaris Dewan Penerbangan/Sekretaris Gabungan Kepala-kepala Staf kepada Suryadarma tahun 1957, tidak seorangpun tahu. Maklum, TNI tengah sibuk menghadapi PRRI/Permesta. Namun dari pemberontakan itu pula, semua tersentak. AURI tidak punya pembom strategis! B-25 yang dikerahkan menghadapi AUREV (AU Permesta), malah merepotkan. Karena daya jelajahnya terbatas, pangkalannya harus digeser, peralatan pendukungnya harus diboyong. Waktu dan tenaga tersita. Sungguh tidak efektif. Celaka lagi, Amerika meng-embargo suku cadangnya. Alhasil, gagasan memiliki Tu-16 semakin terbuka.</div>
<div align="left">Salatun yang menemukan proyek Tu-16 dari majalah penerbangan asing tahun 1957, menyampaikannya kepada Suryadarma. &#8220;Dengan Tu-16, awak kita bisa terbang setelah sarapan pagi menuju sasaran terjauh sekalipun dan kembali sebelum makan siang,&#8221; jelasnya kepada KSAU. &#8220;Bagaimana pangkalannya,&#8221; tanya Pak Surya. &#8220;Kita akan pakai Kemayoran yang mampu menampung pesawat jet,&#8221; jawab Salatun. Seiring disetujuinya rencana pembelian Tu-16 ini, landas pacu Lanud Iswahyudi, Madiun, kemudian turut diperpanjang.</div>
<div align="left">Proses pembeliannya memang tidak mulus. Sejak dikemukakan, baru terealisasi 1 Juli 1961, ketika Tu-16 pertama mendarat di Kemayoran. Ketika lobi pembeliannya tersekat dalam ketidakpastian, Cina pernah dilirik agar membantu menjinakkan &#8220;beruang merah&#8221;. Caranya, Cina diminta menalangi dulu pembeliannya. Namun usaha ini sia-sia, karena neraca perdagangan Cina-Rusia lagi terpuruk. Sebaliknya, &#8220;Malah Cina menawarkan Tu-4m <i>Bull</i>-nya,&#8221; tutur Salatun. Misi Salatun ke Cina sebenarnya mencari tambahan B-25 <i>Mitchell</i> dan P-51 <i>Mustang</i>.</div>
<div align="left">Jadi, pemilihan Tu-16 memperkuat AURI bukan semata alat diplomasi. Penyebab lain adalah embargo senjata Amerika. Padahal saat bersamaan, AURI sangat membutuhkan suku cadang B-25 dan P-51 untuk menghantam AUREV.</div>
<div align="left">Tahun 1960, Salatun berangkat ke Moskow bersama delegasi pembelian senjata dipimpin Jenderal AH Nasution. Sampai kedatangannya, delegasi belum tahu, apakah Tu-16 sudah termasuk dalam daftar persenjataan yang disetujui Soviet. Perintah BK hanya, cari senjata. Apa yang terjadi. Tu-16 termasuk dalam daftar persenjataan yang ditawarkan Uni Soviet. Betapa kagetnya delegasi.</div>
<div align="left">&#8220;Karena Tu-16 kami berikan kepada Indonesia, maka pesawat ini akan kami berikan juga kepada negara sahabat lain,&#8221; ujar Menlu Mikoyan. Mulai detik itu, Indonesia menjadi negara ke empat di dunia yang mengoperasikan pembom strategis selain Amerika, Inggris dan Rusia sendiri. Hebat lagi, AURI pernah mengusulkan untuk mengecat bagian bawah Tu-16 dengan <i>Anti Radiation Paint</i> cat khusus anti radiasi bagi pesawat pembom berkemampuan nuklir. &#8220;Gertak musuh saja, AURI kan tak punya bom nuklir,&#8221; tutur Salatun. Usul tersebut ditolak.</div>
<div align="left">Segera AURI mempersiapkan awaknya. Puluhan kadet dikirim ke Chekoslovakia dan Rusia. Mereka dikenal dengan angkatan Cakra I, II, III, Ciptoning I dan Ciptoning II.</div>
<div align="left">Mulai tahun 1961, ke-24 Tu-16 mulai datang bergiliran diterbangkan awak Indonesia maupun Rusia. Pesawat pertama yang mendarat di Kemayoran dikemudikan oleh Komodor Udara (sekarang Marsda TNI Pur Cok Suroso Hurip). Mendapat perhatian terutama dari kalangan intel Amerika. Kesempatan pertama intel-intel AS melihat Tu-16 dari dekat ini, memberikan kesempatan kepada mereka memperkirakan kapasitas tangki dan daya jelajahnya. Pengintaian terus dilakukan AS sampai saat Tu-16 dipindahkan ke Madiun. U-2 pun mereka libatkan. Wajar, di samping sebagai negara pertama yang mengoperasikan Tu-16 di luar Rusia, kala itu beraneka ragam pesawat blok Timur lainnya berjejer di Madiun.</div>
<h5 align="left">Penembakkan Kennel</h5>
<table align="left" width="1">
<tr>
<td align="center"><img vspace="1" src="http://www.angkasa-online.com/09/11/kisah/kn2.jpg" hspace="1" alt="Tu-16 Badger" /> <font size="2" color="#000000" face="times"><i>Penerbangan terakhir Tu-16 Badger AURI</i> </font></td>
</tr>
</table>
<p>Saat Trikora dikumandangkan, angkatan perang Indonesia sedang berada pada &#8220;puncaknya&#8221;. Lusinan persenjataan Blok Timur dimiliki. Mendadak AURI berkembang jadi kekuatan terbesar di belahan bumi selatan. Dalam mendukung kampanye Trikora, AURI menyiapkan satu <i>flight</i> Tu-16 di Morotai yang hanya memerlukan 1,5 jam penerbangan dari Madiun. &#8220;Kita siaga 24 jam di sana,&#8221; ujar Kolonel (Pur) Sudjijantono, salah satu penerbang Tu-16. &#8220;Sesekali terbang untuk memanaskan mesin. Tapi belum pernah membom atau kontak senjata dengan pesawat Belanda,&#8221; ceritanya kepada <i>Angkasa</i>. Saat itu, dikalangan pilot Tu-16 ada semacam target favorit, yaitu kapal induk Belanda <i>Karel Doorman</i>. </font></font><b></b><b><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/hnlms-karel-doorman-r81-in-hollandia-dutch-new-guinea.jpg" title="hnlms-karel-doorman-r81-in-hollandia-dutch-new-guinea.jpg"><img width="189" src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/hnlms-karel-doorman-r81-in-hollandia-dutch-new-guinea.thumbnail.jpg?w=189&h=75" alt="hnlms-karel-doorman-r81-in-hollandia-dutch-new-guinea.jpg" height="75" style="width:348px;height:207px;" /></a></b></font><font size="2" color="#000000" face="times"><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></font></font><font size="2" color="#000000" face="times"><font size="2" face="Arial, Helvetica, ms san serif"></p>
<p align="center">HNLMS Karel Doorman di Biak</p>
<p>Selain memiliki 12 Tu-16 versi bomber (<i>Badger A</i>) yang masuk dalam Skadron 41, AURI juga memiliki 12 Tu-16 KS-1 (<i>Badger B</i>) yang masuk dalam Skadron 42 Wing 003 Lanud Iswahyudi. Versi ini mampu membawa sepasang rudal anti kapal permukaan KS-1 (AS-1 <i>Kennel</i>). Rudal inilah yang ditakuti Belanda. Karena hantaman enam Kennel, mampu menenggelamkan Karel Doorman ke dasar samudera. Sayangnya, hingga Irian Barat diselesaikan melalui PBB atas inisiatif pemerintah Kennedy, Karel Doorman tidak pernah ditemukan Tu-16.</p>
<p>Lain lagi kisah Idrus Abas (saat itu Sersan Udara I), operator radio sekaligus penembak ekor (<i>tail gunner</i>) Tu-16. Bulan Mei 1962, saat perundingan RI-Belanda berlangsung di PBB, merupakan saat paling mendebarkan. Awak Tu-16 disiagakan di Morotai. Dengan bekal radio transistor, mereka memonitor hasil perundingan. Mereka diperintahkan, &#8220;Kalau perundingan gagal, langsung bom Biak,&#8221; ceritanya mengenang. &#8220;Kita tidak tahu, apakah bisa kembali atau tidak setelah mengebom,&#8221; tambah Sjahroemsjah yang waktu itu berpangkat Sersan Udara I, rekan Idrus yang bertugas sebagai operator radio/tail gunner. Istilahnya, <i>one way ticket operation</i>.</p>
<p>Namun para awak Tu-16 di Morotai ini, tidak akan pernah melupakan jerih payah <i>ground crew</i>-nya. &#8220;Yang paling susah kalau isi bahan bakar. Bayangkan untuk sebuah Tu-16, dibutuhkan sampai 70 drum bahan bakar. Kadang <i>ngangkut</i>nya tidak pakai pesawat, jadi langsung diturunkan dari kapal laut. Itupun dari tengah laut. Makanya, sering mereka mendorong dari tengah laut,&#8221; ujar Idrus. Derita awak darat itu belum berakhir, lantaran untuk memasukkan ke tangki pesawat yang berkapasitas kurang lebih 45.000 liter itu, masih menggunakan cara <i>manual</i>. Di suling satu per satu dari drum hingga empat hari empat malam. Hanya sebulan Tu-16 di Morotai, sebelum akhirnya ditarik kembali ke Madiun usai Trikora.</p>
<p>Kennel memang tidak pernah ditembakkan. Tapi ujicoba pernah dilakukan sekitar tahun 1964-1965. Kennel ditembakkan ke sebuah pulau karang di tengah laut, persisnya antara Bali dan Ujung Pandang. &#8220;Nama pulaunya Arakan,&#8221; aku Hendro Subroto, mantan wartawan TVRI. Dalam ujicoba, Hendro mengikuti dari sebuah C-130 <i>Hercules</i> bersama KSAU Omar Dhani. Usai peluncuran, Hercules mendarat di Denpasar. Dari Denpasar, dengan menumpang helikopter Mi-6, KSAU dan rombongan terbang ke Arakan melihat perkenaan. &#8220;Tepat di tengah, plat bajanya bolong,&#8221; jelas Hendro.</p>
<h5><b>Diuber <i>Javelin</i></b></h5>
<p>Lebih tepat, di masa Dwikoralah awak Tu-16 merasakan ketangguhan Tu-16. Apa pasal? Ternyata, berkali-kali pesawat ini dikejar pesawat tempur Inggris. Rupanya, Inggris menyadap percakapan AURI di Lanud Polonia Medan dari Butterworth, Penang.</p>
<p>&#8220;Jadi mereka tahu kalau kita akan meluncur,&#8221; ujar Marsekal Muda (Pur) Syah Alam Damanik, penerbang Tu-16 yang sering mondar-mandir di selat Malaka.</p>
<p>Damanik menuturkan pengalamannya di kejar <i>Javelin</i> pada tahun 1964. Damanik terbang dengan ko-pilot Sartomo, navigator Gani dan Ketut dalam misi kampanye Dwikora.</p>
<p>Pesawat diarahkan ke Kuala Lumpur, atas saran Gani. Tidak lama kemudian, dua mil dari pantai, Penang (Butterworth) sudah terlihat. Mendadak, salah seorang awak melaporkan bahwa dua pesawat Inggris <i>take off</i> dari Penang. Damanik tahu apa yang harus dilakukan. Dia berbelok menghindar. &#8220;Celaka, begitu belok, <i>nggak</i> tahunya mereka sudah di kanan-kiri sayap. Cepat sekali mereka sampai,&#8221; pikir Damanik. Javelin-Javelin itu rupanya berusaha menggiring Tu-16 untuk mendarat ke wilayah Singapura atau Malaysia (<i>forced down</i>). Dalam situasi tegang itu, &#8220;Saya perintahkan semua awak siaga. Pokoknya, begitu melihat ada semburan api dari sayap mereka (menembak-<b>Red</b>), kalian langsung balas,&#8221; perintahnya. Perhitungan Damanik, paling tidak sama-sama jatuh. Anggota Wara (wanita AURI) yang ikut dalam misi, ketakutan. Wajah mereka pucat pasi.</p>
<p>Dalam keadaan serba tak menentu, Damanik berpikir cepat. Pesawat ditukikkannya untuk menghindari kejaran Javelin. Mendadak sekali. &#8220;Tapi, Javelin-Javelin masih saja nempel. Bahkan sampai pesawat saya bergetar cukup keras, karena kecepatannya melebihi batas (di atas <i>Mach</i> 1).&#8221; Dalam kondisi <i>high speed</i> itu, sekali lagi Damanik menunjukkan kehebatannya. Ketinggian pesawat ditambahnya secara mendadak. Pilot Javelin yang tidak menduga manuver itu, kebablasan. Sambil bersembunyi di balik awan yang menggumpal, Damanik membuat <i>heading</i> ke Medan.</p>
<p>Segenap awak bersorak kegirangan. Tapi kasihan yang di ekor (tail gunner). Mereka berteriak ternyata bukan kegirangan, tapi karena kena tekanan G yang cukup besar saat pesawat menanjak. Akibat manuver yang begitu ketat saat kejar-kejaran, perangkat radar Tu-16 jadi <i>ngadat</i>. &#8220;Mungkin saya terlalu kasar naiknya. Tapi <i>nggak</i> apa-apa, daripada dipaksa mendarat oleh Inggris,&#8221; ujar Damanik mengenang peristiwa itu.</p>
<p>Lain lagi cerita Sudjijantono. &#8220;Saya ditugaskan menerbangkan Tu-16 ke Medan lewat selat Malaka di Medan selalu disiagakan dua Tu-16 selama Dwikora. Satu pesawat terbang ke selatan dari Madiun melalui pulau Christmas (kepunyaan Inggris), pulau Cocos, kepulauan Andaman Nikobar, terus ke Medan,&#8221; katanya. Pesawat berikutnya lewat jalur utara melalui selat Makasar, Mindanao, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Laut Cina selatan, selat Malaka, sebelum akhirnya mendarat di Medan. Ada juga yang nakal, menerobos tanah genting Kra.</p>
<p>Walau terkesan &#8220;gila-gilaan&#8221;, misi ini tetap sesuai perintah. BK memerintahkan untuk tidak menembak sembarangan. Dalam misi berbau pengintaian ini, beberapa sempat ketahuan Javelin. Tapi Inggris hanya bertindak seperti &#8220;polisi&#8221;, untuk mengingatkan Tu-16 agar jangan keluar perbatasan.</p>
<h5><b>Misi ala <i>stealth</i></b></h5>
<p>Masih dalam Dwikora. Pertengahan 1963, AURI mengerahkan tiga Tu-16 versi bomber (Badger A) untuk menyebarkan pamflet di daerah musuh. Satu pesawat ke Serawak, satunya ke Sandakan dan Kinibalu, Kalimantan. Keduanya wilayah Malaysia. Pesawat ketiga ke Australia. Khusus ke Australia, Tu-16 yang dipiloti Komodor Udara (terakhir Marsda Purn) Suwondo bukan menyebarkan pamflet. Tapi membawa peralatan militer berupa perasut, alat komunikasi dan makanan kaleng. Skenarionya, barang-barang itu akan didrop di Alice Springs, Australia (persis di tengah benua), untuk menunjukkan bahwa AURI mampu mencapai jantung benua kangguru itu. &#8220;Semacam <i>psi-war</i> buat Australia,&#8221; ujar Salatun.</p>
<p>Padahal Alice Springs ditongkrongi <i>over the horizon radar system</i>. &#8220;Untuk memantau seluruh kawasan Asia Pasifik,&#8221; ujar Marsma (Pur) Zainal Sudarmadji, pilot Tu-16 angkatan Ciptoning II.</p>
<p>Walau begitu, misi tetap dijalankan. Pesawat diberangkatkan dari Madiun sekitar jam satu malam. &#8220;Pak Wondo (pilot pesawat-<b>Red</b>) tak banyak komentar. Beliau hanya minta, kita kumpul di Wing 003 pukul 11 malam dengan hanya berbekal air putih,&#8221; ujar Sjahroemsjah, <i>gunner</i> Tu-16 yang baru tahu setelah berkumpul bahwa mereka akan diterbangkan ke Australia.</p>
<p>Briefing berjalan singkat. Pukul 01.00 WIB, pesawat meninggalkan Madiun. Pesawat terbang rendah guna menghindari radar. Sampai berhasil menembus Australia dan menjatuhkan bawaan, tidak terjadi apa-apa. Pesawat pencegat F-86 <i>Sabre</i> pun tak terlihat aktivitasnya, rudal anti pesawat <i>Bloodhound</i> Australia yang ditakuti juga &#8220;tertidur&#8221;. Karena Suwondo berputar agak jauh, ketika tiba di Madiun matahari sudah agak tinggi. &#8220;Sekitar pukul delapan pagi,&#8221; kata Sjahroemsjah.</p>
<p>Penyusupan ke Sandakan, dipercayakan ke Sudjijantono bersama Letnan Kolonel Sardjono (almarhum). Mereka berangkat dari Iswahyudi (Madiun) jam 12 malam. Pesawat membumbung hingga 11.000 m. Menjelang adzan subuh, mereka tiba di Sandakan. Lampu-lampu rumah penduduk masih menyala. Pesawat terus turun sampai ketinggian 400 m. Persis di atas target (TOT), ruang bom (<i>bomb bay</i>) dibuka. Seperti berebutan, pamflet berhamburan keluar disedot angin yang berhembus kencang.</p>
<p>Usai satu sortie, pesawat berputar, kembali ke lokasi semula. &#8220;Ternyata sudah gelap, tidak satupun lampu rumah yang menyala,&#8221; kata Sudjijantono. Rupanya, aku Sudjijantono, Inggris mengajari penduduk cara mengantisipasi serangan udara. Akhirnya, setelah semua pamflet diserakkan, mereka kembali ke Iswahyudi dan mendarat dengan selamat pukul 08.30 pagi. Artinya, kurang lebih sepuluh jam penerbangan. Semua Tu-16 kembali dengan selamat.</p>
<p>Dapat dibayangkan, pada dekade 60-an AURI sudah sanggup melakukan operasi-operasi penyusupan udara tanpa terdeteksi radar lawan. Kalaulah sepadan, bak operasi NATO ke Yugoslavia dengan pesawat silumannya.</p>
<p>Sebenarnya RI tidak sendirian saat itu. India memberikan dukungan penuh. Hal ini terungkap ketika Zainal Sudarmadji bertemu dengan seorang pejabat tinggi India. &#8220;Bila Indonesia jadi menyerang semenanjung Malaya, AU India akan menyediakan <i>air space</i>-nya antara ketinggian 15.000 -30.000 kaki untuk tempat berputar armada Tu-16 AURI sebelum melakukan pemboman. Bahkan AU India akan menjaga sekitar <i>indara point</i> di kepulauan Andaman Nicobar, agar bebas dari gangguan elektronik Inggris (SEATO),&#8221; tuturnya saat itu kepada Zainal.</p>
<h5><b>Sarat politik</b></h5>
<p>Tapi sungguh ironis akhir nasib Tu-16 AURI. Pengadaan dan penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: politik! Bayangkan, &#8220;AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 <i>Sabre</i> dan T-33 T-<i>bird</i> dari Amerika,&#8221; ujar Bagio Utomo, mantan anggota Skatek 042 yang mengurusi perbaikan Tu-16. Bagio menuturkan kesedihannya ketika terlibat dalam tim &#8220;penjagalan&#8221; Tu-16 pada tahun 1970.</p>
<p>Dokumen CIA (<i>central intelligence agency</i>) sebagaimana dikutip Audrey R Kahin dan George McT Kahin dalam bukunya &#8220;Subversi Sebagai Politik Luar Negeri&#8221; menulis: &#8220;Belanja senjata RI mencapai 229. 395.600 dollar AS. Angka itu merupakan akumulasi perdagangan pada tahun 1958. Sementara dari Januari hingga Agustus 1959 saja, nilainya mencapai 100.456.500 dollar AS. Dari jumlah ini, AURI kebagian 69.912. 200 dollar AS, yang di dalamnya termasuk pemesanan 20 pesawat pembom.&#8221;</p>
<p>Tidak dapat dipungkiri, memang, Tu-16 pembom paling maju pada zamannya. Selain dilengkapi peralatan elektronik canggih, badannya terbilang kukuh. &#8220;Badannya tidak mempan dibelah dengan kampak paling besar sekalipun. Harus pakai las yang besar. Bahkan, untuk membongkar sambungan antara sayap dan mesinnya, laspun tak sanggup. Karena campuran magnesiumnya lebih banyak ketimbang alumunium,&#8221; ujar Bagio.</p>
<p>Namun Tu-16 bukan tanpa cacat. Konyol sekali, beberapa bagian pesawat bisa tidak cocok dengan <i>spare</i> pengganti. Bahkan dengan spare yang diambil secara kanibal sekalipun. &#8220;Kita terpaksa memakai sistem kerajinan tangan, agar sama dan pas dengan kedudukannya. Seperti <i>blister</i> (kubah kaca-<b>Red</b>), mesti diamplas dulu,&#8221; kenang Bagio lagi. Pengadaan suku cadang juga sedikit rumit, karena penempatannya yang tersebar di Ujung Pandang dan Kemayoran.</p>
<p>Sebenarnya, persediaan suku cadang Tu-16 yang dipasok dari Rusia, memadai. Tapi urusan politik membelitnya sangat kuat. Tak heran kemudian, usai pengabdiannya selama Trikora - Dwikora dan di sela-sela nasibnya yang tak menentu pasca G30S/PKI, AURI pernah bermaksud menjual armada Tu-16-nya ke Mesir. Namun hal ini tidak pernah terlaksana.</p>
<p>Begitulah nasib Tu-16. Tragis. <i>Farewell flight</i>, penerbangan perpisahannya, dirayakan oleh para awak Tu-16 pada bulan Oktober 1970 menjelang HUT ABRI. Dijejali 10 orang, Tu-16 bernomor M-1625 diterbangkan dari Madiun ke Jakarta. &#8220;Sempat ke sasar waktu kita cari Monas,&#8221; ujar Zainal Sudarmadji. Saat mendarat lagi di Madiun, bannya meletus karena awaknya sengaja mengerem secara mendadak.</p>
<p>Patut diakui, keberadaan pembom strategis mampu memberikan efek psikologis bagi lawan-lawan Indonesia saat itu. Bahkan, sampai pertengahan 80-an, Tu-16 AURI masih dianggap ancaman oleh AS. &#8220;<i>Lah, wong</i> nama saya masih tercatat sebagai pilot Tu-16 di ruang operasi Subic Bay, <i>kok</i>,&#8221; ujar Sudjijantono, angkatan Cakra 1.</p>
<p>Sekian tahun hidup dalam kedigdayaan, sampailah AURI (juga ALRI) pada massa yang teramat pahit dalam perjalanannya. Pasokan suku cadang terhenti, nasib pesawat tak jelas. Ditulis oleh Harold Crouch &#8220;Politik dan Militer di Indonesia&#8221;, 1978), AL dan AU yang bergantung pada teknologi yang lebih maju dari AD tidak dapat memelihara lagi dengan baik peralatannya.</p>
<p>Pada awal tahun 1970, KSAU Marsdya Suwoto Sukendar mengatakan, hanya 15 sampai 20 persen pesawat AURI yang dapat diterbangkan kapal ALRI hanya 40 persen karena ketiadaan suku cadang dari Uni Soviet. Tahun 1970, kemudian dikenang sebagai tahun pemusnahan persenjataan Blok Timur</p>
<p></font></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/andit2anggi.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/andit2anggi.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andit2anggi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andit2anggi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andit2anggi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andit2anggi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andit2anggi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andit2anggi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andit2anggi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andit2anggi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andit2anggi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andit2anggi.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andit2anggi.wordpress.com&blog=2733515&post=42&subd=andit2anggi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/03/05/42/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/andit2anggi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggoro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/2/28/Tu-16_AURI.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tu-16 AURI.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.angkasa-online.com/09/11/kisah/kn2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tu-16 Badger</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/03/hnlms-karel-doorman-r81-in-hollandia-dutch-new-guinea.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hnlms-karel-doorman-r81-in-hollandia-dutch-new-guinea.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>New pics (Singapore Airshow 2008)</title>
		<link>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/02/27/36/</link>
		<comments>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/02/27/36/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 12:12:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andit2anggi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andit2anggi.wordpress.com/2008/02/27/36/</guid>
		<description><![CDATA[
       ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b><span style="font-family:Arial;"><font size="2"><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/02/part1.jpg" title="part1.jpg"><img width="440" src="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/02/part1.jpg?w=440&h=165" alt="part1.jpg" height="165" style="width:485px;height:3344px;" /></a><a href="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/02/enterence-gate.doc" title="New pics (Singapore Airshow 2008)"></a></font></span></b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/andit2anggi.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/andit2anggi.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andit2anggi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andit2anggi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andit2anggi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andit2anggi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andit2anggi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andit2anggi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andit2anggi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andit2anggi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andit2anggi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andit2anggi.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andit2anggi.wordpress.com&blog=2733515&post=36&subd=andit2anggi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andit2anggi.wordpress.com/2008/02/27/36/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/andit2anggi-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggoro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andit2anggi.files.wordpress.com/2008/02/part1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">part1.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>